Selasa, 01 September 2015

Jalan Siapakah Yang Kita Tempuh?

JALAN SIAPAKAH YANG KITA TEMPUH?

Sebuah Renungan Dari Fatwa Ulama Kibar Terkait Dengan Tahdzir Syaikh Rabi’ Terhadap Dzulqarnain Al-Makassari

Bismillah,
Alhamdulilah, wash shalatu wassalamu ‘ala Rasulillah,

Amma ba’du:

Sebelumnya, dengan terpaksa, diri Ana yang masih sangat jahil ini mencoba memberanikan diri untuk memberikan sumbangsih kapada saudara2ku yang cinta kepada dakwah dan ulamanya.

Ana awali dengan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Keberkahan itu diperoleh dengan berjalan bersama para ulama kibar.”

Ikhwati fillah,

Di forum ini ana ingin menuliskan beberapa kalimat utk diri ana pribadi dan semoga bermanfaat untuk antum semua.

Ana menyerukan kepada kita semua utk bertakwa kepada Allah, selalu berjuang untuk ikhlas, dan jujur dalam beragama, dan jauhilah sifat ta’asshub.

Ikhwani fiddin rahimakumullah,

Terkait dengan fatwa syaikh Rabi hafizhahullah Ta’ala tentang tahdzir terhadap Dzulqarnain, janganlah benih2 ta’asshub dan ‘ashabiyah  menyelimuti akal kita, sehingga kita ragu atau bahkan menolak fatwa tersebut.

Ikhwah fillah,

Apabila ada berita yg terkait dengan keamanan, rasa takut, dll, bukankah Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), ” Apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyebarkannya. Dan kalau mereka MENYERAHKANNYA KEPADA RASUL DAN ULIL AMRI di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (RASUL DAN ULIL AMRI).” [an-Nisa: 83]

Ikhwatil kiram,

Kalau memang kita jujur dalam beragama dan bermanhaj, mari kita amalkan bimbingan Allah dalam ayat di atas.

Janganlah antum bersikap dan berbuat kecuali dengan bimbingan ulama.

Dan bimbingan ulama telah datang.

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri (ulama dan umara) di antara kamu.” [an-Nisa: 59]

Ikhawani fiddin,

Ana khawatir, apabila kita menyelisihi perintah Allah walaupun cuma satu saja, hal itu akan membawa kita kepada fitnah.

Sehingga yang namanya fitnah itu, ada pada orang2 yang tidak mau mengikuti bimbingan ulama.

Merekalah ahli fitan sesungguhnya.

Renungilah firman Allah Ta’ala berikut ini (yang artinya), “Hendaklah berhati-hati/takut orang-orang yang menyelisihi perintah Rasul, mereka akan ditimpa dengan fitnah, atau ditimpa dengan azab yang pedih.” [an-Nur: 63]

Ya ikhwah rahimakumullah..

Bukankah dulu ketika fitnah itu datang, sebagian kita (karena minimnya ilmu dan informasi yang benar) terus berada di atas kebingungan, siapakah yang benar dari kedua pihak YANG BERSELISIH tersebut.

Kepada siapa kita menilai kebenaran yang ada pada mereka?

Dengan apa kita menilainya?

Sedang masing2 mereka, mengklaim bahwa merekalah yang benar.

Ya ikhwah,

Bukankah ketika kita berani menilai dengan modal ilmu yang pas-pasan (sangat minim), akhirnya kita pun terus terjatuh ke dalam perselisihan!?

Sehingga, walaupun jasad kita bersatu, tp hati kita berselisih dan bercerai berai?

Terasa tidak enak, bukan?

Ya Ikhwah…

Tdk ada yang bisa menyelamatkan kita dari fitnah ini kecuali kembali kepada bimbingan Allah dan Rasul-Nya, serta kembali kepada bimbingan para ulama, terkhusus ulama kibar yang berkompeten di bidangnya, dalam hal ini adalah syaikh Rabi hafizhahullah Ta’ala.

Beliau adalah ulama kibar, baik dari segi umur atau ilmu.

Hal itu tdk kita ragukan lagi, bukan?

Apalagi kalau kita melihat pujian para ulama kibar, seperti syaikh Albani dan syaikh bin Baz rahimahumallah Ta’ala.

Ya ikhwah, apa yang kita tunggu?

Bukankah dari dahulu kita selalu menunggu fatwa para ulama, terkhusus syaikh Rabi, yang mana beliau adalah ulama yang paling tahu tentang kondisi INDONESIA. Kurang lebih dua puluh tahun lamanya beliau selalu mengikuti perkembangan dakwah di Indonesia.

Jujur saja antum, 20 tahun yang lalu antum di mana????

Di mana ya Akhi?

Coba antum bercermin dan muhasabah.

Sekarang…

sudah muncul fatwa itu….

Kenapa sebagian kita masih ragu?

Apakah antum merasa lebih sayang terhadap dakwah ini daripada syaikh Rabi?

Mana yang lebih sayang terhadap keselamatan dakwah, umat, dan Dzulqarnain itu sendiri?

Ketahuilah, ana memandang bahwa beliaulah yang paling sayang terhadap dakwah, umat, dan Dzulqarnain?

Kenapa?

Bukankah antum tahu, bahwa salah satu bentuk kasih sayang terhadap dakwah, umat, dan pribadi yang bersalah adalah dengan tahdzir terhadapnya?

Dengan tahdzir itulah kemaslahatan untuk dakwah, umat, dan person tercapai?

Bagi dakwah dan umat jelas..

Lalu, bagaimana dengan person yang bersalah kemudian ditahdzir, di mana letak kasih sayangnya?

Letaknya adalah dengan person tersebut ditahdzir maka akan memperkecil daerah fitnah, mempersedikit jumlah yang mengikutinya, sehingga dengan itu akan mengurangi dosa2nya, dan yang paling diharapkan adalah hal itu akan mengembalikan dia kepada al-haq dan bimbingan ulama (tentunya bagi yang dirahmati Allah Ta’ala).

Contoh dalam hal ini adalah perintah Rasulullah untuk menghajr tiga sahabat yang tidak ikut dalam perang Tabuk.

Padahal antum tahu, siapa yang lebih sayang terhadap umat, dan 3 sahabat tersebut?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan?

Tapi beliau dengan kasih sayangnya memerintahkan para sahabat untuk menghajr Ka’ab bin Malik dan 2 sahabat lainnya.

Antum baca kembali bagaimana tentang kisah mereka yang dipenuhi dengan kejujuran, tanpa ada PENENTANGAN dan PENYELISIHAN  terhadap keputusan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam rangka mengharap ridha Allah Ta’ala.

Ka’ab bin Malik,

dengan kejujurannya beliau berterus terang tentang ketidakhadirannya di perang Tabuk.

Walaupun beliau bisa saja beralasan dan mencari-cari alasan yang dengan itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan memaafkannya, padahal beliau sangat pandai untuk bisa melakukannya, tapi beliau tidak melakukannya.

Kenapa beliau tidak melakukannya, dan memilih jujur, serta bersabar dalam masa pemboikotan, sehingga bumi terasa sempit, dan masa terasa lama dan panjang?

Kenapa?

Karena mengharapkan keridhaan Allah Ta’ala.

Dan Allah Ta’ala tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang jujur.

Tapi dengan kejujuran mereka, mereka jalani semuanya dengan tobat, penyesalan, dan doa kepada Allah Ta’ala.

Sampai kemudian, Allah mengampuni mereka semua.

Ya Akhil karim,

apakah beratnya bagi antum untuk menerimanya?

Dan apakah beratnya bagi Dzulqarnain untuk menerimanya.

Itupun kalau dia mau jujur, ikhlas, dan menyadari akan kekurangannya.

Para sahabat dan salafuna ash-shalih sebagai teladan kita.

Tidak ada dari mereka yang ma’shum. Tp yang bisa kita ambil adalah keteladanan mereka dalam hal cepatnya mereka rujuk kepada al-haq ketika ada kesalahan, dan ada yang menasihati mereka.

Bukan malah membela diri, apalagi di hadapan ulama kibar seperti syaikh Rabi’ yang paling tahu, dan paling sayang terhadap umat, dan kita semua.

Tapi, kalau di hati ada kesombongan maka siapa yang akan bisa memberi nasihat kepadanya?

Sombong adalah menolak al-haq dan meremehkan manusia.

Ya Akhi,

janganlah antum menganggap bahwa fatwa tersebut terlalu terburu2 dan tidak ilmiah, kemudian engkau menyibukkan diri dengan mencari2 bukti, data, dan kesalahan2 dari kedua belah pihak, untuk engkau timbang mana yang benar?

Allahul Musta’an, siapa dirimu?

Selain engkau bukan ahlinya, engkau juga akan tersibukkan dengan hal itu?

Kenapa engkau tidak mencukupkan diri dengan fatwa tersebut?

Kenapa engkau tidak mengembalikan urusan yang besar ini kepada ulama?

Coba bandingkan sikap antum, dengan sikap para ulama yang lain.

Antum bisa melihat bagaimana syaikh Muhammad al-Wushabi, syaikh Muhammad al-Imam, dan syaikh Abdurrahman al-‘Adeny, mereka semua sepakat bahwa ketika sudah muncul fatwa tersebut, ikuti para ulama.

Tinggal ANTUM, ke mana akan melangkah…

Jalan siapa yang antum ikuti?

Apakah antum akan mengikuti Dzulqarnain dan husnuzhan kepadanya,

sementara antum tinggalkan fatwa ulama, jalan para ulama, dan suuzhan kepada mereka.

Silakan antum memilih…

Semoga Allah Ta’ala selalu menunjuki kita ke jalan yang lurus, menguatkan kita untuk selalu istiqamah di atas jalannya para nabi, shiddiqin, syuhada,

dan shalihin, sehingga kita berharap bisa dikumpulkan oleh Allah bersama mereka di dalam jannah-Nya.
Amin ya Mujiibas Sailin.


Dari akhukum fillah,
Al-Faqir ila Rabbihi Ta’ala, Abu umar ibrahim.
Markiz Daril Hadits al-Fiyush.
Tanggapan Asatidzah atas Penjelasan Dzulqarnain terkait Fatwa Tahdzir Syaikh Rabi’ Hafizhahullah

1.Soal di tujukan Kepada Ustadz Muhammad As Seweed Hafizhahulloh.

“Bismillah Kayf Haaluka yaa Ustadzy? Kayf Nasehat Antum Tentang Bayan Dzulqarnain terkait Fatwa Syaikh Rabi’? Jazaakallah Khaira
Jawaban Ustadz Muhammad As Seweed Hafizhahullah.
” Dia berlindung dari panasnya matahari dengan api. Karena dalam ucapannya dia mendzalimi tiga pihak sekaligus:syaikh Rabie’ , syaikh Hani ,dan para asatidzah.
Ana lihat perkara ini sudah final.Dua belah pihak sudah lama berseteru dan masing masing sudah menyampaikan dalil2, bukti2 dan argumen2nya. Apakah melalui syaikh Abdullah al Bukhari atau syaikh Abdullah Mar’i atau syaikh Badr dan syaikh Hani dll yang semuanya akan sampai beritanya ke syaikh Rabie’. Bahkan pernah kedua belah pihak langsung ke syaikh Rabie’.
Apakah dia mengira syaikh Rabie belum bisa membaca sosok jenis dia: “Dzulqarnain, Ja’far Shalih dll??!!”
Adapun berlepas dirinya dari Ali Hasan, radio Roja atau orang2 Roja secara tertulis di internet, namun dia membolehkan orang awam –katanya–untuk mendengarkan radio rodja di beberapa majlisnya.Bahkan mencari pembolehan mendengar radio tsb sampai ke negri yaman. Itu hanya manambah bukti ucapan syaikh Rabie’ bahwa dia mutalawwin.
Wallahu a’lam. Wa nasalullahal hidayah lil jamie’

2.Soal kepada Ustadz Qomar suady Hafizhahullah

Bismillah. Kaifa haaluk yaa ustdzy? Kaif ustdz nasihat antum setelah keluarnya bayan dari dzulqarnaen terkait fatwa syaikh rabee tersebut? Barakallahu fiik.
Jawaban Ustadz Qomar Suady Hafizhahulloh:
Pembelaan diri dan tidak paham dengan teliti kalam Syaikh Robi’. Syaikh tidak mengatakan halaby tapi seperti halaby dalam makar

3.Soal kepada Ustadz Muslim Hafizhahullah

Bismillah. Kaifa haaluk yaa ustdzy? Kaif ustdaz nasihat antum setelah keluarnya bayan dari dzulqarnaen terkait fatwa syaikh rabee tersebut? Barakallahu fiik.
Jawaban ust.muslim hafidzahullah
Dzaka min talaubihi wa kadzibatihi, wafikum.
Azidu, wa ya dullu ‘ala suu’i fahmihi wa makrihi, nas alullahassalamah wal ‘afiyah
(artinya) itu menunjukkan perbuatan dzulqarnaen yang sering mempermainkan agama ini dan kedustaannya.
Aku tambahkan lagi:” dan juga menunjukkan atas jeleknya pemahaman dia(dzulqarnaen) dan makarnya.
نسال الله السلامة و العافية

4.Soal di tujukan ke Ustadz Asykari Hafizhahullah

Bismillah.kaifa haaluk yaa ustdzy? Kaif ustadz nasihat antum setelah keluarnya bayan dari dzulqarnaen terkait fatwa syaikh rabee tersebut? Barakallahu fiik.
Jawaban Ustadz Asykari
Dalam surat ustadz Dzulqarnain ada beberapa hal yang perlu di tanggapi:
1. Seakan-akan ada yang mengabari syaikh Rabi Hafizhahullah tentang dzulqarnain bahwa dia berjalan diatas metode Al-Halabi, padahal pernyataan bahwa dzulqarnain berjalan di atas metode Al-Halabi dalam membuat makar adalah kesimpulan Syaikh Rabi sendiri.Dan yang perlu ditekankan disini, bahwa Beliau menghukumi bahwa dzul berjalan di atas metode Al-Halabi dalam membuat makar, bukan maksudnya dzul pengikut Al-Halabi. Hendaknya dibedakan dua ungkapan ini. Maka pernyataan berlepas dirinya dzul dari Al-Halabi tidak ada kaitannya dengan tuduhan yang disematkan kepadanya.
2. Sungguh sangat disayangkan Dzulqarnain yang melempar tuduhan balik kepada saudara-saudaranya dengan tuduhan berdusta kepada syaikh Rabi Hafizhahullah. ini adalah ucapan kosong yang memerlukan bukti. Siapa yang dia maksud? Lalu berita bohong yang mana? Atau Syaikh Hani juga termasuk yang tertuduh?
Begitulah cara dzulqarnain dalam menjatuhkan seterunya, selalu dengan bahasa kabur yang tidak transparan.Wallahul musta’an
3. Dengan surat ini juga mengandung makna seakan2 syaikh Rabi terlalu bermudah2an dalam menghukumi seseorang, sehingga Beliau menghukumi dzulqarnain tanpa tatsabbut, dan dibangun di atas berita palsu. Sementara yang kita ketahui, Syaikh Rabi dalam menetapkan hukum terhadap seseorang, selalu beliau lakukan dengan proses dan ta’anni, seperti itulah yg beliau lakukan terhadap Abdurrahman Abdul khaliq, Ali Hasan, Abul Hasan, yahya Hajuri, dan yang lainnya. Bertahun2 lamanya beliau menasehati, sebelum kemudian memvonisnya.
Untuk sementara ini dulu tanggapan ana. Barakallahu fiik

5.Soal di tujukan kepada Ustadz Abu Hamzah Yusuf Al Atsary Hafizhahulloh.

Apa Nasehat Antum setelah keluarnya bayan dari Dzulqarnain terkait Fatwa Syaikh Rabee tersebut?
Jawaban Ustadz Abu Hamzah Hafizhahullah
“Apa yang ditulis dzulqarnain saya melihatnya hanya mencari simpatik dan coba melemparkan tuduhan balik. dan itulah salah satu contoh kalau dia seperti halaby dalam makar dan tentu hal ini tidak akan samar bagi siapa yang mengetahuinya

6.Soal di tanyakan kepada Ustadz Idral Harits Hafizhahulloh

Bismillah. Kaifa haaluk yaa ustdzy? Kaif ustdz nasihat antum setelah keluarnya bayan dari dzulqarnaen terkait fatwa syaikh rabee tersebut? Barakallahu fiik.
Jawaban:
Tapi, ringkas aja..dia tidak menyebutkan Syaikh yang dimintainya pertimbangan.. mungkin tulisan rilisnya baik,tapi tidak benar, dan terlalu lancang menuduh Asatidz bahkan termsuk syaikh Hani menyampaikan berita dusta..padahal syaikh Hani telah menyatakan bahwa Beliau sudah mengetahui sikap aneh AMDZ sebelum tiba di indonesia..kalau dia bukan pengikut halabiy, boleh jadi dia secara terpisah membuat kaidah yang sama dengan halaby,lalu apa bedanya?
Lantas apa artinya dia mengaku-aku tidak akan merubah dan menukar manhaj salaf atau berlepas diri dari al halaby? Allahul Musta’ an.

7.Soal di tanyakan kepada Ustadz Hamzah Rifai La Firlaz Hafizhahullah

Bismillah kayf Ustadz Nasehat Antum terkait Bayan Dzulqarnain terhadap Fatwa Syaikh Rabi’?
Jawaban Ustadz Hamzah Rifai La Firlaz Hafizhahullah
Subhanallah. Ana terkejut dengan Bayan yang diungkapkan oleh Dzulqarnain. Benar apa yang dikatakan Syaikh Rabi’ tentang dirinya. Semakin jelas dengan sanggahan yang dia tampilkan. Orang ini semakin terlihat sebagai seorang yang Mutalawwin. Pernyataannya tidaklah lantas menjadikan dirinya semakin tersembunyi, justru semakin memperjelas keadaan.
Dzulqarnain bukanlah orang yang Jahil dalam bahasa Arab. Pasti dia memahami arti kalimat
و يمشي على طريقة الحلبي في المكر
Syaikh mempersamakan dia dalam “Thariqah” semisal dengan Ali Al Halaby “Dalam Berbuat Makar”. Bukan disebutkan dia pengikut Al Halaby.
Tapi dia tampakkan dirinya seakan tertuduh sebagai pengikut Al Halaby. Terlihatlah dia seorang yang La’aab Mutalawwin. Dia hendak mengkaburkan permasalahan, sehingga menjadi samar. Dia gambarkan seakan dirinya seorang yang terzdalimi dan korban kedustaan.
Wahai saudara kami Dzulqarnain,
Apa yang membuat pandanganmu tertutupi ?
Bukankah kejujuran itu indah ?
Bukankah Inshaf itu menyenangkan ?
Tidak ada cela dan salah bagi orang mau berbuat jujur.
Jangan membuat permainan dan beragam tipuan lagi kepada saudara-saudaramu. Tidakkah nanti di hari Akhirat itu menjadi kegelap gulitaan ?
Saudara-saudaramu Asatidzah, bukanlah hendak menjerumuskan dirimu. Tetapi hendak memperbaiki keadaanmu dan menjaga keutuhan Dakwah Salafiyyah dari makar dan tipu dayamu.
Syaikh Rabi’ berucap bukanlah dibangun di atas kejahilan, tapi di atas Ilmu yang Haq. Ini bukanlah perkara yang tertutupi lagi. Beliau bukan orang yang asing tentang dirimu. Beliau sudah tahu watak dan kondisimu dihadapan atau di belakang.
Sudah terlalu banyak type dan karakter orang yang beliau hadapi, termasuk karaktermu yang ternyata semisal dengan Ali Al Halaby. Itu bukanlah kesimpulan angan-angan belaka. Tapi di atas Ilmu.
Semakin memperjelas adalah berita yang dibawa Asatidzah Al Afadhil. Berita yang dibawa itu bukanlah mimpi ataupun tuduhan. Tapi kenyataan dalam majlis dan statement2mu. Terekam, tersebar, terdengar, tersaksikan yang hasilnya merusak, mengaburkan, membingungkan.
Apakah mungkin sesuatu yang tersebar dan tersaksikan akan kamu tuduh sebagai kedustaan ?
Terheran, ada apa dengan dirimu ?
Sebagai kasih sayang dan cinta kepada kami, salafiyyin, dan dirimu sendiri, maka Ucapan Syaikh Rabi’ menjadi Obatnya. Obat itu hanya bisa diresepkan oleh Ahlinya, dan hanya Allah semata Yang Menyembuhkan. Semoga Allah Memperbaiki keadaan kami dan dirimu. Wallahu Al Mustaan.

8.Soal ditanyakan kepada Ustadz Ahmad Khadim Hafizhahullah

Bismillah Kayf Ustadz Apa Nasehat Antum Atas bayan Dzulqarnain terkait Fatwa Syaikh Rabi’?
Jawaban Ustadz Ahmad Khadim Hafizhahulloh.
“Setelah membaca tulisannya tersebut Ana cuma bisa menanggapi rusaknya / jeleknya pemahaman dia, sebagai mana jeleknya pemahaman Dia ketika memahami perkataan Syaikh Rabi’ Utruku Asbabal Khilaf, Dia memahami ucapan Syaikh tersebut dengan mengatakan tidak usah membahas Radio Rodja karena itu akan menyebabkan perpecahan hal ini ana dengar dari Ustadz Asykari ketika Beliau menelpon Ana.
Sebab Labilnya Seorang Dalam Manhaj Salaf

oleh Al Ustadz Hamzah Rifa’i La Firlaz Hafizhahumulloh

 من أسباب التذبذب في المنهج السلفي

 الضعف من الناحية العلمية.
  عدم المعرفة بالحكم الشرعي.
  مراعاته -في ظنه- لمصلحة؛ وهي في الحقيقة تؤول إلى مفسدة، وقد تكون هذه المصلحة ليست شرعية، قد تكون مصلحة شخصية: دنيوية، أو علاقة اجتماعية.
  الهوى.
  أو يظن أن له طريقة خاصة في إصلاح ذلك الأمر؛ يستطيع من خلالها أن يعمل في الأمر توازن! وهو في الحقيقة: يميل في صف أهل المخالفة أشد من موافقته لاخوانه! فيقع في هذا التذبذب!
  أسباب باطنة: عدم صدقهم- وعدم أخذهم بوصايا أهل العلم- وعدم تعظيمهم لأهل العلم والرجوع إليهم في المسائل المشكلات.
  قلة الصبر على الحق.
  ضعف اليقين.
  الاستعجال والعجلة.
  كثرة الجدال والاضطراب.
  ثني الركب عند المذبذبين.
  الاستشراف للفتن.

Diantara sebab Kelabilan seseorang dalam Berprinsip dengan Manhaj Salafy:
  • Kelemahan wawasan pengetahuan ilmiah.
  • Minimnya pengetahuan tentang hukum-hukum syariat.
  • Cara pandang -(menurut prasangka pribadi)- dalam rangka suatu kemaslahatan, padahal realitanya akan mengantarkan kepada kerusakan. Mungkin juga, maslahat yang ia pandang baik tersebut ternyata tidak sesuai syariat. Hal ini terjadi pada tendensi pribadi, duniawi, ataupun terkait kepentingan umum.
  • Hawa Nafsu (dorongan jiwa)
  • Prasangka hati, bahwa ada metode khusus yang akan bisa memperbaiki keadaan yang dimaksud. Ia memandang bisa menempuh jalan tengah ataupun memposisikan diri di blok yang netral. Padahal sangat nyata kalau justru dirinya itu lebih cenderung bersama golongan yang kontra kebenaran dibanding saudara-saudaranya (Salafiyyin). Alhasil dirinya terjerumus didalam kebingungan (labil).
  • Sebab-sebab yang tersembunyi: “Kurangnya kejujuran, enggannya mengikuti nasehat Ulama, rendahnya sikap pemuliaan terhadap Ulama, dan tidak menyandarkan berbagai masalah dan problematika umat kepada Ulama.
  • Lemahnya kesabaran dalam berpijak diatas Kebenaran (Al-Haq).
  • Kelemahan keyakinan.
  • Tergesa-gesa.
  • Intensitas yang tinggi dalam perdebatan dan
Faidah di kirim Oleh Al Ustadz Abdurrahman Dani.terjemahkan oleh Al Ustadz Hamzah Rifa’i La Firlaz Hafizhahumulloh
Permulaan Jalan Istiqamah

Oleh: Al-Ustadz Qamar Suaidiy Lc Hafizhahullah

Apa nasehat anda bagi seorang anak muda di permulaan jalan istiqomah?

Jawab:
  1. Memohon keteguhan kepada Allah dan kebenaran.
  2. Banyak membaca Al-Quran dengan tadabbur.
  3. Bersemangat untuk tetap dalam ketaatan. Jangan bosan, Jangan malas.
  4. Bersemangat untuk berteman dengan orang baik.
  5. Menasehati dirinya ketika jiwanya mengalami perubahan. Katakan pada jiwamu “perjalanan masih panjang”. Surga dikelilingi dengan hal yang tidak menyenangkan. Dan neraka dikelilingi dengan syahwat.
  6. Menjauhi teman yang tidak baik. Walaupun sebelumnya dia temannya sendiri “permisalan teman duduk yang jelek seperti pandai besi ia akan menyebabkan terbakarnya pakaianmu atau kamu akan mendapatkan darinya bau yang tidak sedap”.
     
Diringkas dari penjelasan ibnu utsaimin. Liqo bab maftuh
Nasehat untuk pengguna Whatsapp dan semisalnya

 Nasehat Asy-Syaikh Muhammad Ghalib untuk pengguna Whatsapp dan semisalnya

[تنبيهات ومسائل بين يدي مناقشة المخالفين في برامج التواصل]
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه، أما بعد:
فإن مما ابتلينا به هذه الأيام ولا سيما مع مايسمى بشبكات التواصل الاجتماعية وأجهزة الهواتف الذكية المتضمنة لبرامج المحادثات كالواتساب ونحوه، المناقشات والمجادلات ولا سيما مع بعض أهل الأهواء والبدع من الخوارج والأباضية والإخوان ومن نحا نحوهم..
وأحببت هنا أن أنبه إلى مسائل مهمة متعلقة بذلك:
المسألة الأولى:
المنع عن دخول المجموعات الخاصة بأهل الأهواء، فإنه يحصل بسبب ذلك التعرض للشبهات وربما أدى إلى المؤانسة معهم وهو خلاف ما أمر الله به من عدم الجلوس مع من يخوض في الآيات والشرع بغير علم ولا بصيرة، قال تعالى:
{وإذا رأيت الذين يخوضون في آياتنا فأعرض عنهم حتى يخوضوا في حديث غيره…} الآية.
قال العلامة الشوكاني:
«في هذه الآية موعظة عظيمة لمن يتسمح بمجالسة المبتدعة ، الذين يحرّفون كلام الله ، ويتلاعبون بكتابه وسنة رسوله ، ويردّون ذلك إلى أهوائهم المضلة وبدعهم الفاسدة ، فإنه إذا لم ينكر عليهم ويغير ما هم فيه فأقلّ الأحوال أن يترك مجالستهم ، وذلك يسير عليه غير عسير».
فالواجب هو منابذة أهل البدع وهجرهم. وهو أمر مجمع عليه عند السلف. كما هو مبثوث ومشهور في كتب الاعتقاد.
المسألة الثانية:
إن كان في المجموعة صاحب هوى وبدعة، فينبغي نصحه وإرشاده، لا مجادلته ومناظرته، فقد نهى السلف عن مجادلة أهل الاهواء، ووقع على ذلك الإجماع، وعلى هذا دل حديث عائشة مرفوعا:
(أولئك الذين سمى الله فاخذروهم).
قال الإمام اللالكائي:
«فما جني على المسلمين جناية أعظم من مناظرة المبتدعة! ولم يكن لهم قهر ولا ذل أعظم مما تركهم السلف على تلك الجملة، يموتون من الغيظ كمدا ودرداً ولا يجدون إلى إظهار بدعتهم سبيلا. حتى جاء المغرورون ففتحوا لهم إليها طريقا، وصاروا لهم إلى هلاك الإسلام دليلا، حتى كثرت بينهم المشاجرة، وظهرت دعوتهم بالمناظرة، وطرقت أسماع من لم يكن عرفها من الخاصة والعامة».
شرح أصول الاعتقاد 1/29.
المسألة الثالثة:
ليست المناظرة والمجادلة لكل احد، فإن من المناظرات ما تكون سببا لإضعاف المسلمين إما بسبب ضعف المناظر أو عدم بيانه للحجة.
يقول شيخ اﻹسلام ابن تيمة رحمه الله:
«وقد ينهون عن المجادلة والمناظرة، إذا كان المناظر ضعيف العلم بالحجة، وجواب الشبهة، فيخاف عليه أن يفسده ذلك المضل، كما ينهي الضعيف في المقاتلة أن يقاتل علجاً قويا من علوج الكفار؛ فإن ذلك يضره ويضر المسلمين بلا منفعة».
درء التعارض 173/7
المسألة الرابعة:
لا بد من التفريق بين المقبل الراغب في معرفة الحق والمعاند المجادل، فالأول يبين له الحق ويرشد الى الدليل ويترفق به.
وأما الثاني وهو من تشرب الهوى في قلبه وضاق صدره عن أدلة الشرع ودلالات النصوص، فمثل هذا ينبغي زجره ورد باطله والتغليظ عليه.
قال العلامة الاجري رحمه الله:
«فَإِنْ قَالَ قَائِلٌ: فَمَاذَا نَصْنَعُ؟
قِيلَ لَهُ: إِنْ كَانَ الَّذِي يَسْأَلُكَ مَسْأَلَتَهُ، مَسْأَلَةُ مُسْتَرْشِدٍ إِلَى طَرِيقِ الْحَقِّ لا مُنَاظَرَةً، فَأَرْشِدْهُ بِأَلْطَفِ مَا يَكُونُ مِنَ الْبَيَانِ بِالْعِلْمِ مِنَ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ، وَقَوْلِ الصَّحَابَةِ، وَقَوْلِ أَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَإِنْ كَانَ يُرِيدُ مُنَاظَرَتَكَ وَمُجَادَلَتَكَ فَهَذَا الَّذِي كَرِهَ لَكَ الْعُلَمَاءُ، فَلا تُنَاظِرْهُ وَاحْذَرْهُ عَلَى دِينِكَ كَمَا قَالَ مَنْ تَقَدَّمَ مِنْ أَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ إِنْ كُنْتَ لَهُمْ مُتَّبِعًا
فَإِنْ قَالَ: فَنَدَعُهُمْ يَتَكَلَّمُونَ بِالْبَاطِلِ وَنَسْكُتُ عَنْهُمْ؟!
قِيلَ لَهُ: سُكُوتُكَ عَنْهُمْ وَهِجْرَتُكَ لِمَا تَكَلَّمُوا بِهِ أَشَدُّ عَلَيْهِمْ مِنْ مُنَاظَرَتِكَ لَهُمْ كَذَا قَالَ مَنْ تَقَدَّمَ مِنَ السَّلَفِ الصَّالِحِ مِنْ عُلَمَاءِ الْمُسْلِمِينَ».
المسألة الخامسة:
ينبغي حال المناقشات العلمية تهيئة النفس على الانقياد للحق والتمسك به ولو جاء هذا الحق على لسان المخالف، فلا يمنعن عبد قبول الحق مجيئ الحق من خصمه.
قال ابن بطة العُكبُري رحمه الله:
«اعلم يا أخي أن مَن كره الصواب من غيره ، ونصر الخطأ من نفسه، لم يؤمَن عليه أن يسلبه الله ما علمه، ويُنسيه ما ذكره، بل يُخَاف عليه أن يسلبه الله إيمانه ،لأن الحق من رسول الله إليك افترض عليك طاعته، فمن سمع الحق فأنكره بعد علمه له فهو من المتكبرين على الله، ومن نصر الخطأ فهو من حزب الشيطان».
الإبانة 2/206.
المسألة السادسة:
ليحذر طالب العلم جعل كلامه وفهمه أصلا يجب الرجوع إليه، ولا يجوز الصدور إلا عنه، فيؤصل بذلك التأصيلات المخالفة للوحيين وفهم السلف، حتى ينتصر لقوله ويلجم خصمه. فإن التأصيلات المحدثة والقواعد المخالفة هي سبيل رد الحق، وفتح باب الضلال.
قال ابن القيم رحمه الله:
«وكلُّ من أصَّلَ أصلاً لم يؤصّله اللهُ ورسولُه قادَهُ قسراً إلى ردِّ السنة وتحريفها عن مواضعها فلذلك لم يؤصِّل حزبُ اللهِ ورسولِه أصلاً غيرَ ما جاء به الرسولُ صلى الله عليه وسلم فهو أصلُهم الذي عليه يعولون، وآخيتُهم التي إليها يرجعون».
شفاء العليل 1/210
المسألة السابعة:
لا يجوز لطالب العلم المداهنة ، بل يظهر ما عنده من الحجج ويبين وجه الصواب في قوله، ويدفع ويدافع عن الحق، ولا يغتر ببريق الباطل، فإنه بريق زائف، ولمعان تالف.
قال الشيخ عبد اللطيف بن عبد الرحمن بن حسن آل الشيخ رحمه الله:
«والحق على طالب العلم، والمنتسب إلى الدين والفهم، أكبر منه على غيره، والواجب عليه آكد. والعاقل لا يرضى لنفسه سبيل المداهنة والبطالة».
الدرر 8/312
المسألة الثامنة:
الغاية عند السلفي لاتبرر الوسيلة،  فلاينبغي للسلفي أن يتجاوز الحد الشرعي عند الكلام على أخطاء المخالفين، فيتقول عليهم ما لم يقولوه، بل ينتقد الباطل وينصر الحق.
قال شيخ الإسلام رحمه الله:
«والكلامُ في النَّاسِ يَجبُ أن يكونَ بعلمٍ وعدل، لا بَجهلٍ وظلمٍ، كحالِ أهلِ البدع».
منهاج السنة 4/337.
المسألة التاسعة:
ينبغي أن تكون الردود والمناقشة لمن يُرجى رجوعه من المغترين بعلم وعدل وأن نبتعد في هذا الباب عن السخرية والاستهزاء ولغو الكلام مما لافائدة منه فإن الرد على المخالفين وبيان السنة من العبادات العظيمة التي ينبغي أن تتوفر فيها الإخلاص والمتابعة.
يقول القرافي رحمه الله:
«أرباب البدع والتصانيف المضلة ينبغي أن يشهر في الناس فسادها وعيبها، وأنهم على غير الصواب، ليحذرها الناس الضعفاء فلا يقعوا فيها، وينفر عن تلك المفاسد ما أمكن، بشرط أن لا يتعدى فيها الصدق، ولا يفتري على أهلها من الفسوق والفواحش ما لم يفعلوه، بل يقتصر على ما فيهم من المنفرات خاصة».
الفروق للقرافي (٣١٣/٤)
المسألة العاشرة:
الحرص على عدم الانشغال بهذه الوسائل عن تحصيل العلم وإتقانه، والخوض في باب المناقشات ممن يعلم ولا يعلم، بل من يتكلم في هذا الباب فيجب أن يتكلم بعلم.
وأساس كل العلوم ومنها علم الجرح والتعديل هو العلم الشرعي.
قال العلامة الألباني رحمه الله:
«الرد على أهل البدع لا يجوز إلا لمن كان عالمًا بالسنة من جه، والبدعة من جهة أخرى، لعلكم تذكرون معي حديث حذيفة بن اليمان في «الصحيحين» حين قال:
(كان الناس يسألون رسول الله -صلى الله عليه وسلم- عن الخير، وكنت أسأله عن الشر مخافة أن أقع فيه).
وهذا كما قال الشاعر:
عرفت الشر لا للشر لكن لتوقيه
ومن لا يعرف الخير من الشر يقع فيه
فمن كان عالمًا بالخير والشر كحذيفة بن اليمان ، وكان بالتالي في هذا الزمان عارفًا بالسنة ، فيتبعها ويحض الناس عليها ، وعالمًا بالبدعة فيجتنبها ويحذر الناس منها ، هذا الشخص هو الذي يجوز له أن يجادل أهل البدعة أو المبتدعة».
وفقنا الله وإياكم لصلاح الأقوال والاعمال،

وكتب

Ringkasan nasehat syaikh Muhammad Ghalib:

Setelah beliau bertahmid dan menyampaikan sholawat beliau menyampaikan beberapa persoalan terkait media jejaring sosial seperti whatsapp dll:
  1. Terlarang utk bergabung dgn perkumpulan ahlul ahwa, krn akan mendapatkan berbagai syubhat mrk.
  2. Jika di dalam group jejaring sosial terdapat shohibu hawa dan shohib bid’ah maka hendaknya menasehatinya dan membinanya, namun jgn berdebat dgnnya.
  3. Perdebatan dan dialog bkn hak setiap org, krn boleh jadi perdebatan tsb menjadi sebab utk melemahkan muslimin.
  4. Harus dibedakan antara org yg mudah menerima kebenaran dgn penentang dan pendebat; kepada kelompok pertama: jelaskan alhaq, bimbing kpd dalil dan bersikap lembut kpd nya. Kepada kelompok kedua: cela perbuatannya, bantah kebatilannya dan bersikap keras dgn nya.
  5. Ketika melakukan dialog ilmiah hrs siap tunduk kpd alhaq dan berpegang teguh dgn nya, sekalipun kebenaran itu datang dari org yg menyimpang.
  6. Hendaknya berhati² dari menjadikan ucapan dan pemahamannya sebagai sumber rujukan.
  7. Tdk dibenarkan bagi tholibul ilmi utk bersikap menjilat, tp hendaknya menampakkan hujjah dan menjelaskan sisi kebenaran dlm ucapannya, membela alhaq dan tdk tertipu oleh kilaunya kebatilan.
  8. Untuk mencapai tujuan bagi seorang salafy tdk dgn menghalalkan segala cara.
  9. Dalam membantah dan berdialog harus dgn keikhlasan dan mengikuti syariat.
  10. Tdk menyibukkan diri dgn sarana² ini utk mendapatkan ilmu.
wallohu a’lam.

artikel di kirim oleh Al Ustadz Abdul Mu’thi bin Mughni Kariim Hafizhahullah Madinah

Di terjemahkan dan di ringkas oleh Al Ustadz Sholehudin Hafizhahullah
Nasehat Al Ustadz Luqman Ba’abduh Hafizhahullah Tentang Facebook

Apa nasehat Ustadz untuk ikhwan atau teman-teman yang suka menebarkan fitnah atau suka berdebat di Facebook?

 
Al-Ustadz Luqman Ba’abduh menjawab:

Nasehat ana yang pertama, jauhilah Facebook, tinggalkan Facebook.

Ini Ustadz penting dalam rangka mendapatkan informasi ilmu agama.

Alhamdulillah, informasi agama apa yang antum inginkan bisa antum dapatkan tanpa melalui facebook. Cd-cd dalam bidang tafsir, ada. CD dalam bidang aqidah, manhaj, akhlak, fiqih. Fiqih tentang sholat, tentang hukum jenazah, tentang zakat, tentang haji, ada semuanya.

Apa yang antum inginkan? Alhamdulillah..

Maka seorang muslim harus pandai-pandai menjaga keselamatan qalbu, keselamatan hatinya dari fitnah. Berbagai media yang sebagiannya tadi disebutkan, facebook dan yang semisalnya. Itu adalah sumber fitnah. Baik fitnah terkait dengan syubhat maupun fitnah terkait dengan syahwat.

Terkait dengan syahwat sudah tidak jarang lagi terjadi keributan dalam rumah tangga seorang suami dengan istrinya atau istri dengan suaminya. Gara-gara si istri bermudah-mudahan bermain facebook. Seorang pria yang punya cemburu, seorang suami yang memiliki cemburu dan itu terpuji dalam syariat ini. Dia tidak akan pernah mengizinkan istrinya berfacebook-facebookan. Tidak akan pernah! Bahkan kalau istrinya punya hp, seorang suami bertanggungjawab untuk tahu nomor-nomor siapa saja yang ada di hp istri. Harus!

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاء

Pria, para suami itu adalah qawwam, pembimbing, pengarah bagi kaum wanita yang lemah.

Dan Rasulullah menyatakan

نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِيْنٍ

Mereka itu adalah orang yang lemah cara berfikirnya walaupun jenius, walaupun insinyur, walaupun dokter spesialis. Lemah! Kata Rasulullah.

Tidak bisa menimbang dengan baik antara maslahat dan mafsadat, antara efek positif dan negatif.

Siapa yang mengatakan ini? Nabi!

نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِيْنٍ

Lemah imannya, wanita itu gampaaang terseret dalam fitnah.

Kepada para suami yang memiliki cemburu..

Merasa bertanggung jawab atas tugasnya sebagai suami..

Ia tidak akan pernah mengizinkan istrinya berfacebook-facebookan, berkenalan dengan beragam manusia.
Wahai saudaraku, di masa yang penuh fitnah ini jaga baik-baik diri kita. Jaga baik-baik…

Begitu juga, sampai ada seorang istri meminta cerai dari suaminya gara-gara facebook. Berkenalan dengan pria lain.

Wah itu sih tergantung manusianya. Betul, tergantung manusianya.

Tetapi Allah! Memerintahkan kita untuk menjauhi perzinahan dan kemungkaran sekaligus sebab-sebab yang mengantarkan kesana.

Apa kita bisa menjamin bahwa diri kita orang yang bertakwa, bisa menjaga diri?

Menjamin istri kita termasuk orang yang bertakwa, yang bisa selamat dari godaan syaitan?

Dengan melalui majelis ini kepada para istri wajib untuk taat ketika suaminya melarang dia untuk berfacebook-facebookan. Mengatakan “Terimakasih suamiku, Semoga Allah memberikan ganjaran dan pahala untukmu telah membimbingku”. Bukan malah menentang.

Ikhwani fiddin a’aazaniyallahu wa iyyakum

Di masa fitnah seperti ini Rasulullah menyatakan,

سَتَكُوْنَ فِتَنٌ القاعِدُ فِيْها خَيْرٌ مِنَ الْقَائِمِ والقائمُ فيها خيرٌ من المَاشِي والماشِي فيها خير من السَّاعِي. مَنْ تَشَرَّفَ لَها تَسْتَشْرِفْهُ وَمَنْ وَجَدَ مَلْجَأً أَوْ مَعَاذاً فَلْيَعِذْ بِهِ

Pasti akan bermunculan fitnah, fitnah syubhat maupun syahwat.

Seorang yang posisinya duduk, kata Rasulullah, di masa fitnah lebih terselamatkan dibandingkan seorang yang posisinya berdiri.

Orang yang posisinya berdiri, radius pendengarannya lebih luas dibandingkan orang yang duduk. Radius penglihatan ia lebih jauh dibandingkan yang duduk.

Dan demikian juga seorang yang sebatas berdiri tetapi di tempat, ia lebih terselamatkan dibandingkan seorang yang berjalan di masa fitnah.

Dan Rasul menyatakan:

مَنْ تَشَرَّفَ لَها

Barang siapa yang mencoba menengok-nengok fitnah, ingin tahu, cari tahu.

Cari informasi Ustadz.. Supaya nggak ketinggalan..

Katanya ada ini ada itu.. Bukan..

Katanya.. Ikut lagi..

Katanya..

Kata Rasulullah

مَنْ تَشَرَّفَ لَها

Barangsiapa mencoba menengok, mencari tahu, ingin tahu fitnah! Maka fitnah itu akan menyeret dia, kata Rasul.

Diseret dia oleh fitnah! Dan cenderungnya orang yang diseret oleh fitnah itu ga terasa. Ga merasa, dia merasa masih berposisi pada tempat semula, ternyata kalo dia menengok. Wah, saya sudah jauh berjalan sudah.

Hati-hati ya ikhwan..

Gunakan waktu untuk tholibul ilmi, menuntut ilmu.

Antum dirumah.. Manfaatkan untuk menuntut ilmu!

Jadikan, letakkan jadwal-jadwal dirumah antum bersama istri.

Di pagi hari mendengarkan taklim aqidah selama 20 menit, selesai. Melalui cd, kemudian dicatat apa yang disampaikan oleh ustadz dalam bidang aqidah tadi.

Di sore hari antum pulang kerja, gunakan untuk mendengarkan pelajaran tafsir tentang satu ayat alquran atau separuh ayat alqur’an selamat 20 menit – 30 menit.

Ba’da maghrib baca alqur’an bersama-sama dengan istri… anak-anak dirumah.

Ba’da isya antum mendengarkan kajian atau membaca kitab bersama istri tentang akhlak, tentang hukum-hukum ibadah.

Dengan ini.. Dengan izin Allah.. Kita kan lebih terlindungi dari fitnah.

Baarakallahu fiikum.. Hindarkan, jauhi facebook..

Sekali lagi nasehat..

Masih banyak media dakwah.

Sebelum ada facebook.. Facebook ini adanya berapa tahun kira-kira? 4 tahun yang lalu mulainya? Berapa tahu kira-kira? Ada yang bisa menjawab. 2 tahun.. 3 tahun.. 3 tahunan kurang lebih.

7 tahun yang lalu, dakwah berjalan nggak? Berjalannya dakwah?! Alhamdulillah..

7 tahun yang lalu bahkan 10 tahun yang lalu.. Sudah berjalan dakwah.. Masya Allah..

Dari tempat ke tempat..

Dari mesjid ke mesjid..

Dari kajian ke kajian..

Dari media ke media yang ada ini.

Alhamdulillah..

Jangan (. . . . . . .)

Jangan memaksakan diri masuk ke area yang akan menyeret kita ke dalam fitnah.

Dalam facebook saya mendengar. Sampai ada seorang akhwat yang mengenalkan dirinya.. Menyerahkan fotonya… Ya subhanallah! Ya subhanallah!

Semoga Allah melindungi kaum muslimin dari makar-makar musuhnya..

Klik di Sini Untuk Mendownload Audionya
Di tranksrip oleh abdullah sandl Anthony.