Selasa, 01 September 2015

Tanggapan Asatidzah atas Penjelasan Dzulqarnain terkait Fatwa Tahdzir Syaikh Rabi’ Hafizhahullah

1.Soal di tujukan Kepada Ustadz Muhammad As Seweed Hafizhahulloh.

“Bismillah Kayf Haaluka yaa Ustadzy? Kayf Nasehat Antum Tentang Bayan Dzulqarnain terkait Fatwa Syaikh Rabi’? Jazaakallah Khaira
Jawaban Ustadz Muhammad As Seweed Hafizhahullah.
” Dia berlindung dari panasnya matahari dengan api. Karena dalam ucapannya dia mendzalimi tiga pihak sekaligus:syaikh Rabie’ , syaikh Hani ,dan para asatidzah.
Ana lihat perkara ini sudah final.Dua belah pihak sudah lama berseteru dan masing masing sudah menyampaikan dalil2, bukti2 dan argumen2nya. Apakah melalui syaikh Abdullah al Bukhari atau syaikh Abdullah Mar’i atau syaikh Badr dan syaikh Hani dll yang semuanya akan sampai beritanya ke syaikh Rabie’. Bahkan pernah kedua belah pihak langsung ke syaikh Rabie’.
Apakah dia mengira syaikh Rabie belum bisa membaca sosok jenis dia: “Dzulqarnain, Ja’far Shalih dll??!!”
Adapun berlepas dirinya dari Ali Hasan, radio Roja atau orang2 Roja secara tertulis di internet, namun dia membolehkan orang awam –katanya–untuk mendengarkan radio rodja di beberapa majlisnya.Bahkan mencari pembolehan mendengar radio tsb sampai ke negri yaman. Itu hanya manambah bukti ucapan syaikh Rabie’ bahwa dia mutalawwin.
Wallahu a’lam. Wa nasalullahal hidayah lil jamie’

2.Soal kepada Ustadz Qomar suady Hafizhahullah

Bismillah. Kaifa haaluk yaa ustdzy? Kaif ustdz nasihat antum setelah keluarnya bayan dari dzulqarnaen terkait fatwa syaikh rabee tersebut? Barakallahu fiik.
Jawaban Ustadz Qomar Suady Hafizhahulloh:
Pembelaan diri dan tidak paham dengan teliti kalam Syaikh Robi’. Syaikh tidak mengatakan halaby tapi seperti halaby dalam makar

3.Soal kepada Ustadz Muslim Hafizhahullah

Bismillah. Kaifa haaluk yaa ustdzy? Kaif ustdaz nasihat antum setelah keluarnya bayan dari dzulqarnaen terkait fatwa syaikh rabee tersebut? Barakallahu fiik.
Jawaban ust.muslim hafidzahullah
Dzaka min talaubihi wa kadzibatihi, wafikum.
Azidu, wa ya dullu ‘ala suu’i fahmihi wa makrihi, nas alullahassalamah wal ‘afiyah
(artinya) itu menunjukkan perbuatan dzulqarnaen yang sering mempermainkan agama ini dan kedustaannya.
Aku tambahkan lagi:” dan juga menunjukkan atas jeleknya pemahaman dia(dzulqarnaen) dan makarnya.
نسال الله السلامة و العافية

4.Soal di tujukan ke Ustadz Asykari Hafizhahullah

Bismillah.kaifa haaluk yaa ustdzy? Kaif ustadz nasihat antum setelah keluarnya bayan dari dzulqarnaen terkait fatwa syaikh rabee tersebut? Barakallahu fiik.
Jawaban Ustadz Asykari
Dalam surat ustadz Dzulqarnain ada beberapa hal yang perlu di tanggapi:
1. Seakan-akan ada yang mengabari syaikh Rabi Hafizhahullah tentang dzulqarnain bahwa dia berjalan diatas metode Al-Halabi, padahal pernyataan bahwa dzulqarnain berjalan di atas metode Al-Halabi dalam membuat makar adalah kesimpulan Syaikh Rabi sendiri.Dan yang perlu ditekankan disini, bahwa Beliau menghukumi bahwa dzul berjalan di atas metode Al-Halabi dalam membuat makar, bukan maksudnya dzul pengikut Al-Halabi. Hendaknya dibedakan dua ungkapan ini. Maka pernyataan berlepas dirinya dzul dari Al-Halabi tidak ada kaitannya dengan tuduhan yang disematkan kepadanya.
2. Sungguh sangat disayangkan Dzulqarnain yang melempar tuduhan balik kepada saudara-saudaranya dengan tuduhan berdusta kepada syaikh Rabi Hafizhahullah. ini adalah ucapan kosong yang memerlukan bukti. Siapa yang dia maksud? Lalu berita bohong yang mana? Atau Syaikh Hani juga termasuk yang tertuduh?
Begitulah cara dzulqarnain dalam menjatuhkan seterunya, selalu dengan bahasa kabur yang tidak transparan.Wallahul musta’an
3. Dengan surat ini juga mengandung makna seakan2 syaikh Rabi terlalu bermudah2an dalam menghukumi seseorang, sehingga Beliau menghukumi dzulqarnain tanpa tatsabbut, dan dibangun di atas berita palsu. Sementara yang kita ketahui, Syaikh Rabi dalam menetapkan hukum terhadap seseorang, selalu beliau lakukan dengan proses dan ta’anni, seperti itulah yg beliau lakukan terhadap Abdurrahman Abdul khaliq, Ali Hasan, Abul Hasan, yahya Hajuri, dan yang lainnya. Bertahun2 lamanya beliau menasehati, sebelum kemudian memvonisnya.
Untuk sementara ini dulu tanggapan ana. Barakallahu fiik

5.Soal di tujukan kepada Ustadz Abu Hamzah Yusuf Al Atsary Hafizhahulloh.

Apa Nasehat Antum setelah keluarnya bayan dari Dzulqarnain terkait Fatwa Syaikh Rabee tersebut?
Jawaban Ustadz Abu Hamzah Hafizhahullah
“Apa yang ditulis dzulqarnain saya melihatnya hanya mencari simpatik dan coba melemparkan tuduhan balik. dan itulah salah satu contoh kalau dia seperti halaby dalam makar dan tentu hal ini tidak akan samar bagi siapa yang mengetahuinya

6.Soal di tanyakan kepada Ustadz Idral Harits Hafizhahulloh

Bismillah. Kaifa haaluk yaa ustdzy? Kaif ustdz nasihat antum setelah keluarnya bayan dari dzulqarnaen terkait fatwa syaikh rabee tersebut? Barakallahu fiik.
Jawaban:
Tapi, ringkas aja..dia tidak menyebutkan Syaikh yang dimintainya pertimbangan.. mungkin tulisan rilisnya baik,tapi tidak benar, dan terlalu lancang menuduh Asatidz bahkan termsuk syaikh Hani menyampaikan berita dusta..padahal syaikh Hani telah menyatakan bahwa Beliau sudah mengetahui sikap aneh AMDZ sebelum tiba di indonesia..kalau dia bukan pengikut halabiy, boleh jadi dia secara terpisah membuat kaidah yang sama dengan halaby,lalu apa bedanya?
Lantas apa artinya dia mengaku-aku tidak akan merubah dan menukar manhaj salaf atau berlepas diri dari al halaby? Allahul Musta’ an.

7.Soal di tanyakan kepada Ustadz Hamzah Rifai La Firlaz Hafizhahullah

Bismillah kayf Ustadz Nasehat Antum terkait Bayan Dzulqarnain terhadap Fatwa Syaikh Rabi’?
Jawaban Ustadz Hamzah Rifai La Firlaz Hafizhahullah
Subhanallah. Ana terkejut dengan Bayan yang diungkapkan oleh Dzulqarnain. Benar apa yang dikatakan Syaikh Rabi’ tentang dirinya. Semakin jelas dengan sanggahan yang dia tampilkan. Orang ini semakin terlihat sebagai seorang yang Mutalawwin. Pernyataannya tidaklah lantas menjadikan dirinya semakin tersembunyi, justru semakin memperjelas keadaan.
Dzulqarnain bukanlah orang yang Jahil dalam bahasa Arab. Pasti dia memahami arti kalimat
و يمشي على طريقة الحلبي في المكر
Syaikh mempersamakan dia dalam “Thariqah” semisal dengan Ali Al Halaby “Dalam Berbuat Makar”. Bukan disebutkan dia pengikut Al Halaby.
Tapi dia tampakkan dirinya seakan tertuduh sebagai pengikut Al Halaby. Terlihatlah dia seorang yang La’aab Mutalawwin. Dia hendak mengkaburkan permasalahan, sehingga menjadi samar. Dia gambarkan seakan dirinya seorang yang terzdalimi dan korban kedustaan.
Wahai saudara kami Dzulqarnain,
Apa yang membuat pandanganmu tertutupi ?
Bukankah kejujuran itu indah ?
Bukankah Inshaf itu menyenangkan ?
Tidak ada cela dan salah bagi orang mau berbuat jujur.
Jangan membuat permainan dan beragam tipuan lagi kepada saudara-saudaramu. Tidakkah nanti di hari Akhirat itu menjadi kegelap gulitaan ?
Saudara-saudaramu Asatidzah, bukanlah hendak menjerumuskan dirimu. Tetapi hendak memperbaiki keadaanmu dan menjaga keutuhan Dakwah Salafiyyah dari makar dan tipu dayamu.
Syaikh Rabi’ berucap bukanlah dibangun di atas kejahilan, tapi di atas Ilmu yang Haq. Ini bukanlah perkara yang tertutupi lagi. Beliau bukan orang yang asing tentang dirimu. Beliau sudah tahu watak dan kondisimu dihadapan atau di belakang.
Sudah terlalu banyak type dan karakter orang yang beliau hadapi, termasuk karaktermu yang ternyata semisal dengan Ali Al Halaby. Itu bukanlah kesimpulan angan-angan belaka. Tapi di atas Ilmu.
Semakin memperjelas adalah berita yang dibawa Asatidzah Al Afadhil. Berita yang dibawa itu bukanlah mimpi ataupun tuduhan. Tapi kenyataan dalam majlis dan statement2mu. Terekam, tersebar, terdengar, tersaksikan yang hasilnya merusak, mengaburkan, membingungkan.
Apakah mungkin sesuatu yang tersebar dan tersaksikan akan kamu tuduh sebagai kedustaan ?
Terheran, ada apa dengan dirimu ?
Sebagai kasih sayang dan cinta kepada kami, salafiyyin, dan dirimu sendiri, maka Ucapan Syaikh Rabi’ menjadi Obatnya. Obat itu hanya bisa diresepkan oleh Ahlinya, dan hanya Allah semata Yang Menyembuhkan. Semoga Allah Memperbaiki keadaan kami dan dirimu. Wallahu Al Mustaan.

8.Soal ditanyakan kepada Ustadz Ahmad Khadim Hafizhahullah

Bismillah Kayf Ustadz Apa Nasehat Antum Atas bayan Dzulqarnain terkait Fatwa Syaikh Rabi’?
Jawaban Ustadz Ahmad Khadim Hafizhahulloh.
“Setelah membaca tulisannya tersebut Ana cuma bisa menanggapi rusaknya / jeleknya pemahaman dia, sebagai mana jeleknya pemahaman Dia ketika memahami perkataan Syaikh Rabi’ Utruku Asbabal Khilaf, Dia memahami ucapan Syaikh tersebut dengan mengatakan tidak usah membahas Radio Rodja karena itu akan menyebabkan perpecahan hal ini ana dengar dari Ustadz Asykari ketika Beliau menelpon Ana.

Rabu, 08 Juli 2015

Perbaikilah Niat dan Hindari Murka Allah

Ditulis oleh: Al-Ustadz Idral Harits Hafizhahullah

Kembali kita berbagi, semoga Allah jadikan kita termasuk orang-orang yang mau mengambil peringatan dan petunjuk,yang datang dari Allah dan Rasul-Nya berdasarkan bimbingan ulama ahlissunnah. Lebih-lebih lagi, al haq atau al hikmah adalah barang berharga orang-orang mukmin yang tercecer, maka siapapun yang menyerahkan kepadanya,itu adalah miliknya..dan sudah tentu,orang mukmin pasti mengetahui itu adalah miliknya,karena Allah telah meletakkan dalam hatinya al furqan, sebagai buah taqwAllah yang selama ini dipupuk dan ditumbuh kembangkannya.

Semoga Allah merahmati Ats Tsauri yang pernah mengatakan bahwa tidak ada yang paling berat beliau tangani selain masalah niat..

begitu pula halnya yang dirasakan oleh Sahl bin Abdullah At Tustari yang berkata, ”Tidak ada sesuatu yang lebih berat dirasakan oleh nafsu dari pada keikhlasan. Sebab, nafsu tidak menerima bagian sama sekali di dalamnya..!

Sungguh, niat yang ikhlas bukanlah hiasan bibir, tetapi keadaan hati yang hanya mengharap Wajah Allah.

Yusuf bin Al Husain ar Razi berkata,”Yang paling sulit (juga paling mulia) di dunia ini adalah ikhlas. Betapa sering aku berupaya keras menghilangkan riya dari hatiku, namun seakan-akan dia tumbuh lagi di dalamnya dalam corak warna yang lain.”

Riya adalah dosa besar dan dia adalah sifat orang-orang munafik. sebagaimana diterangkan Allah Ta’ala dalam firmanNya (an nisa’ 142). Allah Ta’ala juga mengancam mereka (al ma’uun 4, dst).

Mereka yang di ancam ini ternyata adalah orang-orang yang mengerjakan shalat.

Sahwu yang di sebut dalam ayat ini ialah lalai dari apa yang wajib dalam shalat, bisa jadi lalai dari waktu, sebagaimana menurut ibnu Mas’ud dll. Bisa pula dari hadirnya hati dan lalai dari ke khusyukan.

Allah Ta’ala mengisahkankan bahwa kaum munafik itu juga shalat, tetapi Allah Ta’ala sifati mereka dengan lalai, yaitu dari waktunya yang wajib, atau dari keikhlasan dan hadirnya hati yang wajib.
Oleh sebab itu, mereka dikatakan riya.

Ibnul Qayyim merajihkan, bahwa makna ayat ini ialah mereka meremehkan waktunya dan cara menunaikannya.

Mereka suka menunda-nunda pelaksanaannya sampai habis.

Mereka tidak memerhatikan shalatnya, tidak menjaga waktu dan syarat-syaratnya, tidak peduli apakah dia shalat ataukah tidak. Orang munafik itu tidak meyakini wajibnya shalat, mereka hanya menampakkan kepada kaum muslimin bahwa mereka shalat, kalau sendirian, mereka tidak shalat.

Dalam Ayat ke lima Allah menerangkan bahwa sifat mereka ialah tidak mengerjakan shalat yang mereka lakukan secara lahiriah, sebagaimana yang dikerjakan kaum muslimin yang hakiki, bahwa shalat itu wajib dan mendekatkan diri kepada Allah.

Adapun firman Allah:

للمصلين

(Bagi orang-orang yang shalat), adalah inti dari

الذين يكذب بالدين….

(Yaitu orang-orang yang mendustakan agama…)

dengan demikian seakan-akan maknanya ialah kecelakaanlah bagi mereka yang shalat, karena lalai dari shalatnya, riya dan tidak mau meminjamkan sesuatu biarpun remeh..

Kata syaikh Sa’di, kalau dengan yang kurang berharga saja dia tidak mau meminjamkan karena kikirnya, lebih-lebih lagi barang yang berharga. Dalam ayat ini tidak dikatakan lalai dalam shalatnya, karena tentang hal ini siap apapun bisa mengalami, dan karena itulah di syariatkan sujud sahwi.

Ringkasnya, lalai dari shalat adalah perbuatan orang yang munafik, sedangkan lalai dalam shalat bisa menimpa orang yang beriman.

Wallahu a’lam.
Allah Memisahkan Yang Baik Dengan Yang Buruk

Ditulis oleh: Al Ustadz Idral Harits Hafizhahulloh

Bismillah.

Allah Ta’ala berfirman Ali ‘Imran 179 :

مَا كَانَ اللَّهُ لِيَذَرَ الْمُؤْمِنِينَ عَلَىٰ مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ حَتَّىٰ يَمِيزَ الْخَبِيثَ مِنَ الطَّيِّبِ ۗ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُطْلِعَكُمْ عَلَى الْغَيْبِ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَجْتَبِي مِنْ رُسُلِهِ مَنْ يَشَاءُ ۖ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ۚ وَإِنْ تُؤْمِنُوا وَتَتَّقُوا فَلَكُمْ أَجْرٌ عَظِيمٌ
“
Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mukmin). Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang ghaib, akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara rasul-rasul-Nya. Karena itu berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya; dan jika kamu beriman dan bertakwa, maka bagimu pahala yang besar.”

Syaikh As-Sa’di menerangkan :

Tidaklah ada dalam hikmah Allah, membiarkan kaum mukminin sebagaimana kamu saat ini, yaitu bercampur aduk, tanpa ada perbedaan sama sekali, hingga Allah memisahkan yang baik dari yang buruk, memisahkan mukmin dari munafik, dan yang jujur dari yang dusta.

Karena itu, sesuai dengan hikmah Allah yang nyata, Dia memberi ujian kepada hamba-Nya, dengan berbagai hal yang akan memisahkan yang buruk dari yang baik. Maka Allah utus para Rasul-Nya dan memerintahkan mereka taat dan tunduk serta beriman kepada para Rasul itu. Akhirnya, manusia terbagi menjadi dua golongan, sesuai dengan sikap ittiba’ mereka kepada para Rasul tersebut, yaitu; mereka yang taat dan mereka yang durhaka.

Dan ada di manakah kita? Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyatakan bahwa yang taat kepada beliau akan masuk surga, sedangkan yang enggan masuk surga adalah mereka yang durhaka kepada beliau.

Rasulullah sudah mengingatkan pula agar kita berpegang dengan sunnah beliau dan sunnah khulafaurrasyidin yang terbimbing.

Kemudian, marilah kita camkan firman Allah Ta’ala dalam surat An-Nisa 115 :

ومن يشاقق الرسول من بعد ما تبين لهم الهدى ويتبع غير سبيل المؤمنين نوله ما تولى و نصله جهنم وساءت مصيرا…

“ Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali…”

Orang mukmin yang pertama kali dituju dalam ayat ini adalah para sahabat, adapun jalan mereka di sini meliputi akidah dan amalan mereka. Dan jalan mereka itu sudah jelas, seterang cahaya siang, orang-orang yang menelusurinya juga sudah jelas, bahkan kita tidak dibiarkan meraba-raba jalan tersebut. Karena para pewaris mereka ada di hadapan kita, yaitu para ulama rabbani.

Karena itu alangkah pantas kita ingat kata-kata Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu :

اتبعوا ولا تبتدعوا، قد كفيتم…

“Ikutilah oleh kamu, dan janganlah kamu mengada-adakan bid’ah, sungguh kamu sudah dicukupi…”

Apakah kita belum merasa cukup dengan apa yg membuat para sahabat cukup? Semoga Allah merahmati Imam Malik yang mengatakan :

لن يصلح آخر هذه الأمة إلا بما صلح به أولها…

“Tidaklah akan baik generasi akhir umat ini kecuali dengan apa yang telah membuat baik generasi awalnya…”

Dengan satu ayat mereka disadarkan, saat mereka dilanda duka kehilangan orang yang sangat dicintai, yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan satu hadits, selesailah keributan di antara mereka dalam menentukan siapa yang akan menggantikan Rasulullah mengurusi kaum muslimin.

Subhanallahi. Kita salafiyyun, di hadapan kita ada ulama rabbani, waliduna al ‘allamah Rabi’ bin Hadi hafizhahullah, beliau selalu mengikuti perkembangan dakwah salafiyah di tanah air sejak hampir seperempat abad. Bahkan beliau sangat memahami hampir semua persoalan yang ada dalam perjalanan dakwah ini, baik yang terkait dengan dakwahnya maupun sebagian pengusungnya. Itulah karunia Allah buat salifiyin.

Beliau telah dan sejak dahulu menyampaikan nasehatnya buat kita salafiyin, terakhir dengan tahdzir tersebut.
Kalaupun diingkari, dan dibantah, sesungguhnya itu adalah nasehat berharga, tidak ingatkah kita dengan kasus Ka’b bin Malik dan dua sahabat utama lainnya? Jelas mereka radhiyallahu ‘anhum bukan munafik, tetapi diboikot selama 50 hari 50 malam, sampai bumi terasa sempit padahal begitu luasnya, bahkan jiwa mereka sesak, dalam keadaan tidak ada selama ini tanda nifak pada diri mereka. Sementara di hadapan kita, tersebar kenyataan adanya penyimpangan dan pemalsuan bahkan kedustaan sehingga sangat layak untuk dibeberkan?

Manakah yang lebih layak diboikot, dihajr atau dijauhi? Oleh sebab itu, salafiyin hendaklah jujur dalam menilainya, hendaklah kita bertaubat kepada Allah, dengan jujur, karena jujur adalah pilihan orang yang mulia dan merdeka.

Bisa jadi kekeruhan yang kita lihat ini karena dosa yang kita lakukan, maka bersegeralah bertaubat kepada Allah. Lebih-lebih mereka yang ditahdzir.

Keikhlasan adalah kunci semua itu. Siapa yang niatnya ikhlas dalam al-haq, meskipun terhadap dirinya, niscaya Allah cukupi antara dia dan manusia. Siapa yang berhias dengan apa yang tidak ada padanya, Allah tentu membuatnya buruk.

Seorang hamba, jika dia ikhlas karena Allah Ta’ala, tujuan dan cita-citanya adalah mengharapkan wajah Allah semata, niscaya Allah pasti bersamanya. Karena itu, jika seseorang melaksanakan yang haq terhadap orang lain dan dirinya lebih dahulu, dan semua itu dengan pertolongan Allah dan karena Allah, tidak ada yang dapat mengalahkannya, meskipun langit dan bumi bersatu melakukan makar terhadapnya.

Sebaliknya, jika seseorang berada dalam kebatilan, dia tidak akan ditolong, dan seandainya ditolongpun kesudahannya yang baik tidak akan diraihnya. Bahkan dia akan terhina dan tercela.

Semoga nukilan ini bermanfaat.