Kamis, 09 Juli 2015

Hukum menghadiahkan bacaan Al Qur’anul Karim untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam atau selain beliau?

Kumpulan Fatwa 
Syaikh Abdul’Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah ta’ala [wafat 1420H] 
Hukum menghadiahkan bacaan Al Qur’anul Karim untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam atau selain beliau? 
Soal: Hukum menghadiahkan bacaan Al Qur’anul Karim untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam atau selain beliau? 

Jawaban: 
Menghadiahkan bacaan Al Quran Al Karim untuk ruh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para mayit tidak memiliki ada asalnya, tidak disyariatkan, dan tidak dilakukan oleh para shahabat radhiyallahu ‘anhum ajma’in.  Dan kebaikan hanyalah dicapai dengan mengikuti mereka.
Sementara itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  diberi pahala seperti pahala yang kita peroleh, segala kebaikan yang kita lakukan maka beliau mendapatkan pahala yang semisal dengan pahala kita, karena beliau orang yang menunjukkan kebaikan tersebut. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
من دل على خير فله مثل أجر فاعله
“Barangsiapa menunjukkan suatu kebaikan, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang melakukan kebaikan tersebut.” [HR. Muslim]
Beliau yang menunjukkan kebaikan bagi umat ini dan membimbing mereka untuk menunaikan kebaikan tersebut.

Jika seseorang membaca Al Quran, menegakkan shalat, berpuasa, dan bersedekah maka beliau diberi pahala seperti pahala orang yang melakukan ibadah tersebut dari kalangan umat ini karena beliau yang menunjukkan umat ini sehingga mengerti kebaikan tersebut dan melaksanakannya. Maka tidak ada hajat yang menuntut untuk menghadiahkan pahala bacaan Al Quran atau ibadah yang lainnya untuk beliau karena hal tersebut tidak ada dalilnya sebagaimana keterangan yang telah lalu.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد

“Siapasaja yang melakukan suatu amalan yang tidak dilandasi oleh perintah kami maka amalan tersebut tertolak.” [HR. Al Bukhari dan Muslim]
Demikian juga membaca Al Quran untuk para mayit, hal ini tidak ada dalilnya bahkan yang wajib adalah meninggalkan perkara tersebut (yakni menghadiahkan bacaan untuk mayit).
Adapun bersedekah untuk para mayit dari kalangan kaum muslimin serta mendoakan mereka maka semua ini disyariatkan sebagaimana apa yang Allah ta’ala firmankan tentang sifat hamba-hamba-Nya yang shalih yang mengikuti para pendahulu mereka yang shalih:
]وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ[ [الحشر: 10] .

“Dan orang-orang yang datang setelah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berberdoa: “Ya Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman mendahului kami.” [QS. Al Hasyr: 10]
Allah menyariatkan shalat jenazah dalam rangka mendoakan  dan memohon rahmat bagi para jenazah. Demikian juga sedekah untuk mayit, sedekah tersebut bermanfaat bagi mayit itu sebagaimana ditunjukkan oleh beberapa hadits yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Demikian juga menghajikan dan mengumrahkan mereka, serta menunaikan utang mereka, semua ini bermanfaat bagi mayit yang memeluk agama Islam.
Sumber:  Majmu’ Fatawa Al ‘Allamah AbdulAziz bin Baz Rahimahullah ta’ala jilid 13 hal. 278-279
Alih Bahasa:
Abu Bakar Abdullah bin Ali Al Jombangi di Daarul Hadits Fiyusy, Lahj, Yaman
Hakekat Diciptakannya Seorang Hamba (Risalah Pena Kangen)

RISALAH PENA KANGEN
Tak terasa sekian tahun sudah berlalu, berpisah dengan orang-orang yang dekat dihati demi cita-cita yang tinggi, belajar ilmu syar’i. Ibu, bapak, simbah, mbak, mas, dan adik selalu setia menyemangati perjuangan suci ini menuju surga ilahi. Doa, donasi, telepon, sms, ataupun chating hangat mereka selalu rutin menyapa dikala kerinduan ini menggelora.
Teringat pesan simbah dulu ketika Allah mudahkan pulang ke rumah, “Ajari simbah ngaji ya…” Simbah putri dari jalur ibu menginjak usia diatas 80 tahun. Beliau masih aktif selepas subuh dan maghrib membaca Al Quran dengan mushaf madinah besar hadiah dari cucunya. Dengan jalan tertatih-tatih, beliau tidak mau terluputkan dari keutamaan shalat berjamaah di mushola seberang jalan itu.
Semoga Allah menjadikan simbah, ibu, bapak, dan kita dari orang-orang yang Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam sabdakan dalam hadits yang telah dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dari Sahabat Abi Shofwan Abdullah bin Busr Al Aslamy radhiyallahu anhu, ketika itu ditanya “Siapakah manusia yang paling baik?” Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam menjawab:
((  مَنْ طَالَ عُمْرُهْ وَحَسُنَ عَمَلُهُ )) [رواه الترمذي  ٢٣٢٩]

“Yang panjang umurnya dan baik amalannya.”(HR Tirmidzi No. 2329)
Tinta ini mengalir, mencurahkan kangen sama keluarga yang begitu mendalam. Walau jarak ribuan mil memisahkan kita tapi hati selalu ingin dekat. Niatan untuk berbincang hangat dengan keluarga selalu muncul tapi apa daya jarak memisahkan kita. Semoga goresan pena ini menjadi pelipur lara kerinduan hati kita.
Coba perhatikanlah sekeliling kita, hamparan bumi menghijau, gunung-gunung gagah menjulang tinggi, dan langit biru cerah terhiasi dengan awan putih. Berjuta-juta makhluk bertebaran di muka bumi ini menjalini siklus kehidupannya masing-masing.
Semuanya berjalan dengan teratur dan rapi, tentunya akal sehat kita akan berpikir pasti ada Dzat yang menciptakan, memiliki, mengatur, dan menyempurnakan itu semua. Ya Dialah Allah, sebagaimana firman-Nya:
{( قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُم مِنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ أَمَنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالأَبْصَارَ وَمَن ُيخْرِجُ الحَيَّ مِنَ المَيِّتِ وَيُخْرِجُ المَيِّتَ مِنَ الحَيِّ وَمَن يُدَبِّرُ الأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللهُ فَقُْل أَفَلَا تَتَّقُونَ )} [يونس: ٣١]

“Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezki pada kalian dari langit dan bumi, atau siapakah yang memiliki pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan mengatakan: “Allah”. Maka katakanlah, “Kenapa kalian tidak bertakwa?” (QS Yunus: 31)
Keteraturan itu juga mengantarkan kita untuk berpikir bahwa pencipta, pemilik, pengatur alam semesta ini cuma satu, Allah semata. Logika mudah kita akan menyatakan kalau pencipta alam lebih dari satu, tentunya masing-masing akan mengatur dengan caranya sendiri-sendiri. Maka berantakan dan hancurlah alam semesta ini, dan hal ini adalah sebuah kemustahilan yang sangat besar. Mobil saja ketika ada dua sopir arahnya tidak menentu, gimana dengan alam semesta ini. Allah pertegas hal ini dalam firman-Nya:
{( مَا اتَخَذَ اللهُ مِن وَلَدٍ وَمَا كَانَ مَعَهُ مِن إِلَهٍ إِذًا لَذَهَبَ كُلُ إِلَهٍ بِمَا خَلَقَ وَلَعَلَا بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ )} [المؤمنون: ٩١]

“Tidaklah Allah mempunyai anak, tidak pula bersama-Nya sesembahan yang lain, (kalau ada) tentu setiap sesembahan akan pergi dengan apa yang dia ciptakan, dan sebagian mereka akan mengalahkan sebagian lainnya.” (QS Al Mukminun: 91)
Lalu renungkanlah ketika Allah semata pencipta, pemilik dan pengatur alam semesta, tentunya hal ini melazimkan kita untuk beribadah hanya kepada-Nya. Hanya Dialah yang paling berhak untuk diibadahi dengan segala macam bentuk peribadatan. Allah berfirman:

{( يٓأَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَكم تَتَقُونَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأَرْضَ فِرَاشًا والسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِن السَّمَاءِ مَاءً فََأخْرَجَ بِهِ مِن الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُم فَلا تَجْعَلُوا لله أَنْدَادًا وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ )} [البقرة: ٢١]

“Wahai sekalian manusia beribadahlah kalian kepada Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, mudah mudahan kalian menjadi orang-orang yang bertakwa. Yang telah menjadikan bagi kalian bumi sebagai hamparan, dan langit sebagai atap. Dan telah menurunkan hujan dari langit, yang dengannya Dia mengeluarkan buah-buahan sebagai rezki buat kalian, maka janganlah kalian jadikan sekutu-sekutu bagi Allah dalam keadaan kalian mengetahui.” (QS Al Baqarah: 21)
Ahlu tafsir Ibnu Katsir menyatakan: “Pencipta segala sesuatu inilah yang paling berhak diibadahi”
Peribadatan kepada Allah semata merupakan tujuan penciptaan kita di muka bumi. Bukankah sering terlintas dalam benak kita, terdengar merdu ditelinga kita dan terbaca indah dengan mata kita firman Allah:
{( وَمَا خَلَقْتُ الجِّنَ وَالِإِنْسَ إِلَّا لِيَعبُدُنِ )} [الذاريات: ٥٦]
“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS Adz Dzariyat :56)
Al Imam Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini dalam tafsirnya: “Makna ayat adalah Allah menciptakan makhluk agar mereka beribadah hanya kepada-Nya semata, yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Maka barang siapa mentaati-Nya, Allah akan balas dengan balasan paling sempurna, dan barang siapa memaksiati-Nya, Allah akan adzab dengan adzab yang paling pedih.”
Berkata Ibnul Qoyim rahimahullah: “Allah mengkabarkan bahwa tujuan utama dari penciptaan-Nya adalah peribadatan kepada-Nya.” (Thariq Al Muhajirin 125)
Syaikh Muhammad At Tamimi memperjelas makna ayat ini : “Makna agar mereka beribadah kepada-Ku adalah agar mereka mentauhidkan-Ku.” (Tsalatsatul Ushul wa Adilatuha)
Dan karena tauhid inilah Allah menurunkan kitab-kitab kepada Para Rasul, mengutus Para Nabi dan Rasul kepada setiap umatnya, dan ditutup dengan mengutus Nabi dan Rasul Muhammad shalallahu ‘alaihi wasalam ke seluruh manusia dan jin. Allah jelaskan hal itu dalam firman-Nya:
{( وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كلِّ أُمَةٍ رَسُولاً أَنِ اعبُدُوا اللهَ واجْتَنِبُوا الطَاغُوتَ )} [النحل: ٣٦]

“Dan sungguh Kami telah mengutus Rasul pada setiap umat (untuk menyerukan) “Beribadahlah hanya kepada Allah dan jauhilah Thaghut” (QS An Nahl: 36)
Dan ini makna syahadat “La ilaha illa Allah”, “La ilaha” meniadakan peribadatan kepada seluruh sesembahan yang disembah selain Allah. Dan “illa Allah” menetapkan peribadatan hanya kepada Allah saja. Sehingga dengannya kita paham makna yang benar dari syahadat “La ilaha illa Allah” yaitu “Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah”. Ketika bebarengan dengan syahadat “Muhammad rasulullah”, keduanya merupakan tolak ukur dan keabsahan Islam seorang muslim.
Amalan yang sangat agung ini Allah janjikan padanya balasan yang sebanding pula bahkan berlipat ganda. Allah wahyukan keutamaan yang besar itu pada Nabi Muhammad shalallahu ‘alahi wasalam dengan sabdanya dihadits yang diriwayatkan dari Sahabat ‘Itban radhiyallahu:
(( فإن الله حرم على النار من قال لا إله إلاّ الله يبتغي بذلك وجه الله )) متفق عليه

“Sesungguhnya Allah haramkan bagi neraka, orang yang mengucapkan “Lailaha illa Allah” dalam keadaan berharap dengannya wajah Allah.” (HR Bukhori No. 425 dan Muslim No. 33)

Bahkan alam semesta ini dengan keindahan, keanekaragaman, keluasan dan kebesarannya, Allah ciptakan untuk menunjang dan menyempurnakan tujuan penciptaan kita yang mulia yaitu mentauhidkan-Nya. Simaklah firman Allah ini:

{( هُوَ الَّذِي خَلَقَ  لَكُمْ مَا فِي الأَرْضِ جَمِيعًا )}  [البقرة:  ٢٩]

“Dialah yang menciptakan segala yang ada di bumi untuk kalian.” (QS Al Baqarah: 29)
Hal itu tidaklah mengherankan, kalau kita melihat realita yang ada bahwa beribadah kepada Allah semata merupakan perintah Allah yang terbesar dan berbuat kesyirikan  kepada-Nya merupakan larangan Allah yang terbesar. Amalkanlah firman Allah ini:
{( وَأعْبُدُوا اللهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا )} [النساء:  ٣٦]

“Beribadahlah kalian hanya kepada Allah, dan janganlah kalian menyekutukan-Nya dengan sesuatupun” (QS An Nisa :36)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah memaparkan makna ibadah dengan pemaparan yang sempurna, bahkan para ulama setelahnya selalu menukil darinya, beliau menyatakan:
(( العبادة اسم جامع لكل ما يحبه الله ويرضاه من الأقوال والأعمال الظاهرة والباطنة )) [مجموع الفتوى ١٠/١٤٩]

“Ibadah adalah nama yang mencakup setiap hal yang Allah cintai dan ridhoi dari perkataan dan perbuatan baik yang tampak maupun yang batin” (Majmul Fatawa 10/149)
Ibadah yang Allah perintahkan macamnya sangat banyak diantaranya doa, rasa takut, berharap, tawakal, kembali kepada-Nya, meminta tolong, meminta perlindungan, meminta pemecahan masalah dalam keadaan yang sangat genting, nadzar, penyembelihan dan yang lainnya.
Semua macam ibadah harus ditujukan pada Allah semata, maka barangsiapa memalingkannya kepada selain Allah, sungguh dia telah musyrik dan kafir. Perhatikanlah firman Allah ini:
{( وَمَنْ يَدْعُ مَعَ اللهِ إلهًا ءَاخَرَ لاَ بُرهَانَ لَهُ بِهِ  فَِإنَّمَا حِسَابُهُ عِنْدَ رَبِهِ إِنَّهُ لاَ يُفْلِحُ الكَافِرُونَ )} [المؤمنون:١١٧]

“Dan barang siapa menyembah sesembahan yang lain disamping Allah, padahal tidak ada suatu dalilpun baginya  tentang itu. Maka sesungguhnya perhitungan mereka disisi Rabbnya. Sungguh orang-orang kafir tidak akan beruntung” (QS Al Mukminun: 117)
Ketika seorang telah melakukan kesyirikan maka seluruh amalannya hangus, gugur, dan terhapus seluruhnya tanpa tersisa sedikitpun. Shalat, puasa, zakat, sedekah, haji, dan amalan lainnya yang telah dia kumpulkan bertahun-tahun akan terhapus semuanya tanpa bekas secuilpun. Cermati firman Allah ini:
{( َولَوْ أَشْرَكُوْا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُو يَعْمَلُونَ )} [الأنعام: ٨٨]

“Kalau mereka mempersekutukan Allah, sungguh akan hapus dari mereka amalan yang dahulunya mereka kerjakan.” (QS Al An’am: 88)
Ketika seorang musyrik meninggalkan dunia yang fana ini dalam keadaan masih lekat kesyirikan bersamanya, maka Allah tidak akan mengampuninya selamanya. Berbeda halnya kalau dia benar-benar bertaubat dari kesyirikan sebelum wafat. Allah telah memaparkan hal itu dalam firman-Nya:

{( إِنَّ اللهَ لا َيَغَفِرُ أَن يُشْرِكَ بِهِ وَيَغْفِرُ ماَ دُونَ ذَلكً لمِِنْ يَشٓاء )} [النساء: ٤٨]

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa kesyirikan, dan mengampuni selain itu bagi yang Dia kehendaki.” (QS An Nisa: 48)
Pelaku kesyirikan pun akan kekal di neraka selamanya dan tidak akan pernah masuk surga. Bahkan diharamkan darinya, Allah jelaskan dalam firman-Nya
{( إِنَّهُ مَن يُشْرِك بِاللهِ فَقَد حَرَّم اللهُ عَليه الجَنَة وَمَأوَاهُ الَّنارِ ومَا للظَالمِينَ مِن أنصَارَ )} [المائدة:  ٧٢]

“Sesungguhnya orang yang menyekutukan Allah, telah Allah haramkan baginya surga, dan tempat kembali mereka adalah neraka, dan tidaklah ada penolong bagi orang-orang yang dholim.”(QS Al Maidah:72)
Tatkala kita telah mengetahui betapa ngerinya kesyirikan, maka kita harus menjauhi dan berlepas diri dari kesyirikan dan pelaku kesyirikan. Nabi Ibrohim ‘alahi salam contohkan sikap itu dan diabadikan dalam firman-Nya:
{( وَإِذ قَالَ إِِبرَاهِيمُ لأِبَيهِ وَقَومِهِ إنَِّنِي بَراءٌ مِمّا تَعبُدُون إِلا الذي فَطَرَنِي )} [الزخرف:٢٦- ٢٧]

“Dan tatkala Ibrohim berkata kepada bapak dan kaumnya: “Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian sembah selain Yang menciptakan aku.” (QS Zuhruf: 26-27)
Untuk menjalankan tujuan utama penciptaan kita di muka bumi ini, dan melihat rintangan yang menghadang begitu dahsyat dan mengerikan, tentu kita butuh ilmu syar’i untuk membedakan mana tauhid dan mana syirik dalam keseharian kita. Disana ada beberapa macam kesyirikan yang terkadang tersamarkan bagi sebagian orang ataupun terkaburkan sisi kesyirikannya. Sempatkanlah waktu walau sesaat dalam sehari untuk kembali menelaah Islam dengan sebenar-benarnya.
Walau saat ini jarak memisahkan kita, namun kita selalu berdoa, semoga Allah kumpulkan kita semua di Surga Firdaus nan mulia.
Yang Selalu Kangen
Abu Abdillah Zaki ibnu Salman
Fiyus, 20 Rabiu Tsani 1435/20 Februari 2014
Hukum Mendatangi Dukun

HUKUM MENDATANGI DUKUN
Orang yang mendatangi dukun ada tiga keadaan:
1. Dia mendatangi dukun kemudian dia bertanya kepadanya dan percaya serta membenarkan ucapannya maka hal ini merupakan tindakan kufur kepada Allah Azza wa Jalla kerena mempercayai ucapan dukun berarti telah percaya dukun mengetahui ilmu ghoib sedangkan mempercayai orang yang mengaku tahu ilmu ghoib merupakan pendustaan terhadap firman Allah ta ‘ala
قل لا يعلم في السموات والأرض الغيب إلا الله

“Katakanlah bahwa tidak ada yang megetahui perkara ghoib kecuali Allah” (An Naml 60)
oleh kerena inilah datang dalam hadits yang shohih.

من أتى كاهنا فصدقه بما يقول فقد كفر بما أنزل على محمد صلى الله عليه و سلم                           

” Barang siapa yang mendatangi dukun kemudian dia mempercayai ucapannya maka dia telah mengkufuri apa yang diturunkan kepada Muhammad Sholallahu ‘alaihi wa Sallam. ” HR At Tirmidzi no130 dishohihkan Asy Syaikh Al Albani dalam kitab Irwa’ no6817.

2. Dia mendatangi dukun lulu dia bertanya kepadanya namun dia tidak percaya terhadap ucapannya maka hal demikian harom, dan pelakunya mendapat hukuman tidak diterima sholatnya selama empat puluh hari sebagaimana telah disebutkan dalam hadits shohih Muslim no2230 bahwa nabi Sholallah alaihi wa Sallam  bersabda:

 من أتى عرافا فسأله لم تقبل له صلاة أربعين يوما

 “Barang siapa yang mendatangi tukang ramal kemudian dia bertanya padanya maka sholatnya tidak diterima selama 40 hari”
dalam riwayat ini Rosul menyatakan bahwa hanya bertanya saja telah membuat sholatnya tidak diterima selama 40 hari. sehingga tidak selayakya kita mendatangi dukun atau tukang ramal lalu bertanya kepadanya walaupun hanya iseng-iseng saja.
الله مستعان و عليه تكلان

3. Dia mendatangi dukun kemudian dia bertanya kepadanya dalam rangka membongkar kedok kebohonganya kepada manusia ,maka yang demikian tidak mengapa hal ini berdasarkan tindakan Nabi Sholallahu alaihi wasallam mendatangi Ibnu Shoyyad yang merupakan seorang dukun,beliau bertanya padanya untuk menunjukkan kelamahannya bahwa dia tidak mengetahui perkara ghoib sebagaimana dalam riwayat Bukhori no 1354 dan muslim no2923.
و الله تعالى أعلم بالصواب

(Disadur dari kitab Fatwa arkaanul islam kumpulan fatwa Asy Syaikh Al Utsaimin Rohimahulla ta’ala no75)

Faidah Dari Ustadz Abu Sufyan Sedayu Gresik
Syarat-Syarat di Terimanya Taubat

Al Imam Ahmad bin Hanbal ditanya mengenai seorang Alim Ulama yang tergelincir dalam kekeliruan dan Sungguh dia telah bertaubat darinya ?
Beliau menjawab : “Taubat tersebut tidak diterima darinya sampai terpenuhi padanya beberapa perkara :
  1. Menerangkan taubatnya
  2. Ruju’ dari ucapannya
  3. Hendaknya dia umumkan bahwa kesalahannya adalah dia mengucapkan perkataan ini dan itu.
  4. Dia jujur bahwa telah bertaubat kepada Allah dan telah ruju’ dari kesalahannya”.
“Ketika sudah jelas darinya perkara-perkara tersebut, maka taubatnya akan diterima”.
Kemudian beliau membacakan ayat firman Allah Ta’ala (artinya) :
“Kecuali orang-orang yang mereka telah bertaubat, membuat perbaikan, dan menjelaskan atas taubatnya”.
(Dzail Thabaqat Al Hanabilah Karya Ibnu Rajab 1/300)
سئل الإمام أحمد بن حنبل عن رجل من أهل العلم كانت له زلة وقد تاب منها ؟فقال : ﻻ يقبل الله ذلك منه حتى
1- يظهر التوبة .
2- والرجوع عن مقالته .
3- وليعلمن أنه قال مقالته كيت وكيت .
4- وأنه تاب إلى الله تعالى من مقالته ورجع عنه فإذا ظهر ذلك منه حينئذٍ تقبل . ثم تلا قوله تعالى ( إلا الذين تابوا وأصلحوا وبينوا  ) “.
ذيل طبقات الحنابلة لابن رجب . ج 1 ص
300


Faidah dari Ustadz Hamzah Rifai La Firlaz Hafizhahullah

Rabu, 08 Juli 2015

Kafirkah Orang Yang Berhukum Dengan Selain Hukum Allah?

KAFIRKAH ORANG YANG BERHUKUM DENGAN SELAIN HUKUM ALLAH ?

Allah Azza wa Jalla mensifati orang yg berhukum dgn selain hukum Allah dalam Al Qur’an dengan tiga sifat:
Kafir, Dzolim, dan Fasik hal ini berdasarkan firman Allah berikut ini:

١. و من لم يحكم بما أنزل الله فأولئك هم الكافرون

“Barang siapa yg tidak berhukum dengan hukum Allah maka mereka termasuk orang-orang yg kafir.”
(Al Maidah 44 )

٢. و من لم يحكم بما أنزل الله فأولئك هم الظالمون

“Barang siapa yg tidak berhukum dengan hukum Allah maka mereka termasuk orang-orang yg dzolim”(Al Maidah 45)

٣. و من لم يحكم بما أنزل الله فأولئك هم الفاسقون

“Barang siapa yg tidak berhukum dgn hukum Allah maka mereka termasuk orang-orang yg fasik”
(Al Maidah 47)

1. Disifati dgn kafir pada tiga keadaan: 

a. Bila menyakini bolehnya berhukum dengan    selain hukum Allah.
b. Bila dia menyakini bahwa hukum mahluk sederajat dengan hukum Allah.
c. Bila dia meyakini hukum mahluk lebih baik dari hukum Allah.

2. Disifati dengan dzolim
Apabila dia menyakini hukum Allah adalah yg terbaik, paling bermanfaat untuk hamba-hamba Nya dan wajib menerapkan hukum Allah, namun karena kebenciannya terhadap terdakwa maka dia tidak menerapkan hukum Allah pada terdakwa,dia menerapkan hukumnya sendiri.

3. Disifati dengan kefasikan
Apabila dia berhukum dengan hukum mahluk karena mengikuti hawa nafsunya, walaupun batinnya menyakini hukum Allah adalah yg benar dan wajib berhukum dengannya.

(Disadur dari kitab Al Qoulul Mufiid karya Asy Syaikh Al Utsaimin Rohimahullah ta’ala)

Faidah dari: Ustadz Abu Abu Sufyan Al Musy
Perbaikilah Niat dan Hindari Murka Allah

Ditulis oleh: Al-Ustadz Idral Harits Hafizhahullah

Kembali kita berbagi, semoga Allah jadikan kita termasuk orang-orang yang mau mengambil peringatan dan petunjuk,yang datang dari Allah dan Rasul-Nya berdasarkan bimbingan ulama ahlissunnah. Lebih-lebih lagi, al haq atau al hikmah adalah barang berharga orang-orang mukmin yang tercecer, maka siapapun yang menyerahkan kepadanya,itu adalah miliknya..dan sudah tentu,orang mukmin pasti mengetahui itu adalah miliknya,karena Allah telah meletakkan dalam hatinya al furqan, sebagai buah taqwAllah yang selama ini dipupuk dan ditumbuh kembangkannya.

Semoga Allah merahmati Ats Tsauri yang pernah mengatakan bahwa tidak ada yang paling berat beliau tangani selain masalah niat..

begitu pula halnya yang dirasakan oleh Sahl bin Abdullah At Tustari yang berkata, ”Tidak ada sesuatu yang lebih berat dirasakan oleh nafsu dari pada keikhlasan. Sebab, nafsu tidak menerima bagian sama sekali di dalamnya..!

Sungguh, niat yang ikhlas bukanlah hiasan bibir, tetapi keadaan hati yang hanya mengharap Wajah Allah.

Yusuf bin Al Husain ar Razi berkata,”Yang paling sulit (juga paling mulia) di dunia ini adalah ikhlas. Betapa sering aku berupaya keras menghilangkan riya dari hatiku, namun seakan-akan dia tumbuh lagi di dalamnya dalam corak warna yang lain.”

Riya adalah dosa besar dan dia adalah sifat orang-orang munafik. sebagaimana diterangkan Allah Ta’ala dalam firmanNya (an nisa’ 142). Allah Ta’ala juga mengancam mereka (al ma’uun 4, dst).

Mereka yang di ancam ini ternyata adalah orang-orang yang mengerjakan shalat.

Sahwu yang di sebut dalam ayat ini ialah lalai dari apa yang wajib dalam shalat, bisa jadi lalai dari waktu, sebagaimana menurut ibnu Mas’ud dll. Bisa pula dari hadirnya hati dan lalai dari ke khusyukan.

Allah Ta’ala mengisahkankan bahwa kaum munafik itu juga shalat, tetapi Allah Ta’ala sifati mereka dengan lalai, yaitu dari waktunya yang wajib, atau dari keikhlasan dan hadirnya hati yang wajib.
Oleh sebab itu, mereka dikatakan riya.

Ibnul Qayyim merajihkan, bahwa makna ayat ini ialah mereka meremehkan waktunya dan cara menunaikannya.

Mereka suka menunda-nunda pelaksanaannya sampai habis.

Mereka tidak memerhatikan shalatnya, tidak menjaga waktu dan syarat-syaratnya, tidak peduli apakah dia shalat ataukah tidak. Orang munafik itu tidak meyakini wajibnya shalat, mereka hanya menampakkan kepada kaum muslimin bahwa mereka shalat, kalau sendirian, mereka tidak shalat.

Dalam Ayat ke lima Allah menerangkan bahwa sifat mereka ialah tidak mengerjakan shalat yang mereka lakukan secara lahiriah, sebagaimana yang dikerjakan kaum muslimin yang hakiki, bahwa shalat itu wajib dan mendekatkan diri kepada Allah.

Adapun firman Allah:

للمصلين

(Bagi orang-orang yang shalat), adalah inti dari

الذين يكذب بالدين….

(Yaitu orang-orang yang mendustakan agama…)

dengan demikian seakan-akan maknanya ialah kecelakaanlah bagi mereka yang shalat, karena lalai dari shalatnya, riya dan tidak mau meminjamkan sesuatu biarpun remeh..

Kata syaikh Sa’di, kalau dengan yang kurang berharga saja dia tidak mau meminjamkan karena kikirnya, lebih-lebih lagi barang yang berharga. Dalam ayat ini tidak dikatakan lalai dalam shalatnya, karena tentang hal ini siap apapun bisa mengalami, dan karena itulah di syariatkan sujud sahwi.

Ringkasnya, lalai dari shalat adalah perbuatan orang yang munafik, sedangkan lalai dalam shalat bisa menimpa orang yang beriman.

Wallahu a’lam.
Janganlah Engkau Jadikan Musim Hujan Sebagai Kambing Hitam

(Faedah dari: ustadz abu sufyan sedayu gresik)

JANGANLAH ENGKAU JADIKAN MUSIM HUJAN SEBAGAI KAMBING HITAM

Nampaknya negeri ini masih terus diguyur hujan tanpa kita ketahui kapan berakhirnya, namun kenyataan yang miris kita dapati suara-suara yang mulai memojokkan musim hujan.

“wah hujan lagi, hujan lagi, bisa rugi saya.!”

“Nampaknya alam sudah tidak bersahabat lagi.”

“Gara-gara hujan harga barang jadi melonjak.”  dan ucapan-ucapan lain yang bernada menyalahkan hujan.

Wahai saudaraku mari kita merenung sejenak!

Tahukah anda sebenarnya banyak pesan yang ingin Allah sampaikan kepada kita lewat musim hujan ini. Diantara pesan yang bisa kita singkap adalah:

1. Allah ingin menunjukan kepada manusia betapa besar dan luas kekuasaan Allah.

Sebagaimana Allah berfirman:

والله أنزل من السماء ماء فأحيا به الأرض بعد موتها إن في ذلك لآية لقوم يسمعون

“Dan Dialah Allah yang telah menurun hujan dari awan kemudian menghidupkan bumi setelah kematiannya sesungguhnya pada hal ini terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang mau mendengar(pelajaran).  An Nahl: 6

Fenomena hujan merupakan salah satu fenomena alam yang mengagumkan sebagai bukti yang kuat untuk menunjukkan betapa agungnya Dzat yang menurunkannya, untuk menunjukkan bahwa tidak ada yang mampu menandingi kuasa ilahi.

Sepintar apapun manusia, sehebat apapun teknologi yang mereka kuasai, mereka tidak mampu membendung turunnya hujan yang bertubi-bertubi mengguyur negeri mereka sehingga banjir di mana-mana tidak bisa terelakkan

لا حول و لا قوة إلا بالله العظيم

2.Untuk menambah rasa takut  kepada Allah

Hal ini telah dicontohkan oleh junjungan kita, salawat dan salam tercurah untuk beliau, sebagaimana diceritakan Ummul Mukminin ‘Aisyah:

“Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat mendung atau angin, maka raut wajahnya pun berbeda.” ‘Aisyah berkata, “Wahai Rasululah, jika orang-orang melihat mendung, mereka akan begitu gembira. Mereka mengharap-harap agar hujan segera turun. Namun berbeda halnya dengan engkau. Jika melihat mendung, terlihat wajahmu menunjukkan tanda tidak suka.”   Beliau pun bersabda, “Wahai ‘Aisyah, apa yang bisa membuatku merasa aman? Siapa tahu ini adalah adzab. Dan pernah suatu kaum diberi adzab dengan datangnya angin (setelah itu). Kaum tersebut (yaitu kaum ‘Aad) ketika melihat adzab, mereka mengatakan, “Ini adalah awan yang akan menurunkan hujan kepada kita.”HR Al Bukhori 4829 dan Muslim 899

Seorang yg memiliki rasa takut kepada Allah akan membuat dia selalu waspada dengan berupaya melaksanakan ketaatan dan menjahui kemaksiatan. Adapun orang yg merasa aman dari hukuman Allah sehingga dia terus menerus dalam kelalaian dan lumpur dosa, dia berpikir:

“Saya tidak mungkin kebanjiran karena saya tinggal di dataran tinggi.”

“Saya ndak mungkin kena sunami wong saya jauh dari pantai”

Maka kita katakan:  “Wahai hamba Allah, apa anda pikir adzab Allah hanya banjir dan gempa bumi.”

Allah  maha mampu mendatangkan adzab dalam bentuk apapun, dari arah manapun tanpa melihat waktu.
Dengarkanlah ucapan Robbmu:

أفأمن أهل القرى أن يأتيهم بأسنا بياتا وهم نائمون
أو أمن أهل القرى أن يأتيهم بأسنا ضحى وهم يلعبون
أفأمنوا مكر الله فلا يأمن مكر الله إلا القوم الخاسرون

“Apakah punduduk sebuah desa itu merasa aman dari adzab kami di waktu malam saat mereka tidur terlelap. Apakah penduduk suatu desa merasa aman dari adzab kami di waktu dhuha tatkala mereka asik bermain.  Apakah mereka merasa aman dari makar Allah, tidaklah ada yang merasa aman dari makar Allah melainkan kaum yang merugi”.   Al A’rof 97-99

3. Penghancur kesombongan dan keangkuhan bani adam 

Wahai saudaraku yang dimuliakan Allah sebenarnya ada pesan yang dalam ingin Allah sampaikan kepada kita dengan musim hujan yang berkepanjangan sehingga menyebabkan kebanjiran melanda dimana-mana, pesan tersebut adalah agar manusia menghilangkan keangkuhan dan kesombongan mereka dan menyadari akan kelemahan mereka di hadapan Al Jabbarul Mutakabbir sehingga mereka kembali kepada Allah, tunduk dan patuh pada ketetapan-Nya.

Saat ini kebanyakan manusia terlalu angkuh nan sombong, dia lebih percaya dengan kemampuan dirinya, dia lebih bersandar pada kecerdasannya sehingga dia lupa bahwa disana ada kekuatan yang tak terbatas, dia lupa bahwa disana ada yang Maha berilmu, Dialah Allah Jalla Robbuna Al Qowiyul Matinul Aliim yang harus dia jadikan sandaran.

Seharusnya kita bersyukur kepada Allah dengan musibah ini karena hal itu pertanda Allah masih sayang dan cinta dengan kita.  sebagaimana sabda junjungan kita baginda nabi:

إذا أراد الله بعبده الخير عجل له بالعقوبة في الدنيا، وإذا أراد الله بعبده الشر أمسك عنه بذنبه حتي يوافي به يوم القيامة.  رواه الترمذي2396 صححه الألباني في صحيح
الجامع 308

“Apabila Allah menghendaki kebaikan untuk hamba-Nya maka Allah akan segerakan hukuman dosanya ketika di dunia, namun bila Allah menghendaki kejelekan untuknya Allah menunda hukuman atas dosanya hingga hari kiamat nanti.” HR At Tirmidzi2396 di shohihkan syaikh Al Albany dlm shohihul jaami’ 308

Sehingga sangatlah tidak pantas kalau kita menyalahkan musim hujan atas musibah yang kita derita, sangatlah tidak pantas kita menjadikan musim hujan sebagai kambing hitam dari kegagalan kita, hendaknya kita mawas diri, hujan tidak pernah salah karena dia merupakan murni perbuatan Allah, perbuatan Allah semuanya baik tidak ada yang salah sebagaimana nabi menyatakan:

الشر ليس إليك

“Kejelekan tidaklah berasal dari-Mu.”

Mencela hujan sama saja mencela Allah sebagaimana  sabda rosul dalam hadits qudsy Allah menyatakan:

يؤذيني ابن آدم يسب الدهر وأنا الدهر أقلب الليل و النهار
رواه البخاري4862 مسلم2246

“Anak adam telah menyakitiku, mereka mencela masa padahal Aku adalah Yang mengendalikannya, Aku yg membolak balikkan malam dan siang.”

sebenarnya yg salah adalah manusia sendiri, karena ketamakan mereka yang menggiring mereka pada musibah ini,penebangan, pembakaran hutan,penimbunan lahan yang terus menerus tampa memperhatikan keseimbangan alam, mereka hanya ingin meraup keuntungan saja.

Oleh karena itu melalui musim hujan ini kita jadikan sebagai ajang dalam mengkoreksi pribadi-pribadi kita dan kembali kepada Allah.

apapun yang kita rasakan dari musim hujan ini,  baik keuntungan ataupun kerugian kita sikapi dengan husnu  dzon,dan berpikir positif namun tetap optimis. Itulah sikap mukmin sejati, sebagaimana sabda nabi:

عجبا لأمر المؤمن إن أمره كله له خير و ليس ذلك لأحد إلا للمؤمن:  إن أصابته سراء شكر فكان خير له و إن أصابته ضراء صبر فكان خير له.  رواه مسلم2999

“Sungguh mengagumkan urusannya orang yang beriman, semua keadaan baik untuknya,  yang demikian tidak mungkin digapai melainkan hanya orang yang beriman, apabila dia mendapat kesenangan dia bersyukur, namun bila dia mendapat kesulitan dia bersabda.”

Dan kita memohon kepada Allah agar saudara-saudara kita yang di timpa musibah diberikan ketabahan, kasabaran dan keridhoan terhadap ketetapan Allah dan agar urusan mereka dipermudah.

Allahumma amiin .
Macam-macam Cinta

بسم الله الرحمن الرحيم

MACAM MACAM CINTA

قال الإمام ابن القيم رحمه الله :
“فالمحبة النافعة ثلاثة أنواع: محبة الله، محبة في الله، محبة على ما يعين على طاعة الله واجتناب معصيته.
والمحبة الضارة ثلاثة أنواع: المحبة مع الله، محبة ما يبغضه الله، محبة ما تقطع محبته عن محبة الله أو تنقصها.
فهذه ستة أنواع عليها مدار محاب الخلق”
(إغاثة اللهفان ص.٥١٢)

Berkata Al Imam Ibnul Qoyim Rahimahullah:

Cinta yang bermanfaat ada tiga macam:
  1. Cinta Allah.
  2. Cinta karena Allah.
  3. Cinta perkara yang membantu ketaatan kepada Allah dan menjauhi kemaksiatan kepada-Nya.
Cinta Yang Memudhoratkan ada tiga macam:
  1. Cinta selain Allah dengan kecintaan yang sama kepada Allah.
  2. Cinta hal-hal yang Allah benci.
  3. Cinta perkara yang memutus kecintaan terhadap Allah ataupun menguranginya.
Enam macam cinta inilah yang beredar padanya cinta-cinta makhluk

(Ighotsatul Lahfan hal. 512)

والله أعلم.
Konsekuensi Saling Cinta Karena Allah (Faidah Ilmiyah dari Asy Syaikh Albani Rahimahullah)

KONSEKUENSI SALING CINTA KARENA ALLAH (Faedah Ilmiyah Dari Asy Syaikh Albany Rahimahullah

Faidah bersama Syaikh Al Albany.

Penanya : “Seseorang yang mencintai saudaranya karena Allah, apakah dia wajib menyatakan,Aku mencintaimu karena Allah “?

Syaikh : Benar, akan tetapi cinta karena Allah itu memiliki Nilai Tukar yang tinggi, sedikit orang yang bisa membayarnya. Apakah kalian tahu apakah Nilai Tukar untuk rasa cinta karena Allah ?

Apakah ada diantara kalian yang mengetahui Bentuk Nilai Harganya? Barangsiapa yang mengetahui hendaknya memberikan jawaban…

Salah seorang hadirin : “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam mengatakan “Ada tujuh golongan manusia yang mendapatkan naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali hanya naungan-Nya…diantara mereka adalah dua orang yang saling mencintai karena Allah. Keduanya berjumpa karena Allah, berpisah juga karena Allah”.

Syaikh : “Ini merupakan suatu pernyataan yang benar didalam makna yang terkandung didalamnya. Akan tetapi bukanlah merupakan jawaban untuk pertanyaan yang disodorkan. Ini lebih mendekati definisi dari cinta karena Allah, meskipun tidak dalam makna yang sempurna.

Adapun pertanyaan yang saya sodorkan adalah, Apakah Nilai Tukar yang harus dibayarkan sebagai harga dari dua orang yang saling mencintai karena Allah? Yaitu yang harus keduanya saling membayarkan sebagai nilai tukar ? Maksud saya bukanlah ganjaran yang akan didapatkan di akherat.

Saya ingin mengatakan dalam pertanyaan saya, Apakah bukti perbuatan nyata yang harus ditunjukkan oleh dua orang yang saling mencintai karena Allah sebagai konsekwensi ?

Karena bisa jadi ada dua orang yang telah mengikrarkan diantara keduanya saling mencintai. Realita menunjukkan bahwa cintanya hanya sesaat karena sebab tertentu. Terus apa hakekat saling mencinta karena Allah ? Bagaimana pembuktian konsekuensinya?

Salah seorang hadirin : “Hendaknya dia mencintai apa yang ada pada saudaranya sebagaimana dia mencintai apa yang ada pada dirinya”.

Syaikh : “Ini merupakan sifat cinta atau diantara sebagian sifat cinta”.

Salah seorang hadirin : “Katakanlah, jika kalian mencintai Allah maka ikutilah diriku, pasti Allah akan mencintai kalian (Ali Imran :31).

Syaikh : “Ini jawaban yang benar tapi untuk pertanyaan yang lainnya”.

Salah seorang hadirin : “Jawaban bisa jadi terletak didalam sebuah hadits yang shahih berikut: “Ada tiga perkara, barangsiapa didapatkan pada diri seseorang maka dia akan dapatkan manisnya Iman…Salah satunya adalah dua orang yang saling mencintai karena Allah”.

Syaikh : “Ini merupakan pengaruh dari rasa cinta karena Allah, yaitu dia merasakan rasa manis didalam hatinya.

Salah seorang hadirin :”Allah Ta’ala berfirman, “Demi masa.Sungguh manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih, dan mereka saling mewasiatkan diatas Al Haq serta saling mewasiatkan diatas Kesabaran”.

Syaikh : Bagus sekali, ini dia jawaban yang paling tepat. Penjelasannya adalah, jikalau misalnya saya mencintai dirimu karena Allah, maka sebagai konsekuensi saya harus berusaha menjaga nasehat. Demikian pula dirimu juga harus membalas dengan balasan yang semisal.

Amat sedikit orang yang mengikrarkan saling mencinta karena Allah kemudian bisa menjaga cinta tersebut dengan saling bernasehat.

Rasa cinta ini terselip didalamnya keikhlasan tapi lemah tidak dengan sempurna. Dalam bentuk, masing-masing diantara keduanya berusaha menjaga perasaan saudaranya, khawatir kecewa, khawatir menjauh, dan kekhawatiran lainnya.

Dari sisi inilah Cinta karena Allah memiliki nilai tukar yang tinggi. Yaitu masing-masing orang yang saling mencintai untuk selalu menjaga diri dengan cara saling menasehati.

Dia perintahkan untuk mengerjakan yang Ma’ruf dan mencegah dari yang munkar secara berkesinambungan tanpa henti. Maka nasehat dari dirinya ini menjadi naungan, sehingga benar apa yang selalu ada di tengah para sahabat, ketika terjadi perselisihan diantara mereka, maka masing-masing saling mengingatkan dengan membacakan “Demi masa. Sungguh manusia berada dalam kerugian.Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih, serta saling mewasiatkan diatas Al Haq dan saling mewasiatkan diatas kesabaran”.

Referensi : Al Hawiy Min Fatawa Al Albany Hal 165-166.

Faidah dari Al Ustadz Hamzah Rifai La Firlaz Hafizhahulloh

ﺳﺎﺋﻞ : ﺍﻟﺬﻱ ﻳﺤﺐ ﻓﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻳﺠﺐ
ﺃﻥ ﻳﻘﻮﻝ ﻟﻪ ﺃﺣﺒﻚ ﻓﻲ ﺍﻟﻠﻪ ؟
ﺍﻟﺸﻴﺦ : ﻧﻌﻢ ، ﻭﻟﻜﻦ ﺍﻟﺤﺐ ﻓﻲ ﺍﻟﻠﻪ
ﻟﻪ ﺛﻤﻦ ﺑﺎﻫﻆ ، ﻗَـﻞّ ﻣﻦ ﻳﺪﻓﻌﻪ ،
ﺃﺗﺪﺭﻭﻥ ﻣﺎ ﻫﻮ ﺛﻤﻦ ﺍﻟﺤﺐ ﻓﻲ
ﺍﻟﻠﻪ ؟ ﻫﻞ ﺃﺣﺪ ﻣﻨﻜﻢ ﻳﻌﺮﻑ
ﺍﻟﺜﻤﻦ ؟ ﻣﻦ ﻳﻌﺮﻑ ﻳﻌﻄﻴﻨﺎ
ﺍﻟﺠﻮﺍﺏ …
ﺃﺣﺪ ﺍﻟﺤﻀﻮﺭ : ﻳﻘﻮﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ
ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ” ﺳﺒﻌﺔ
ﻳﻈﻠﻬﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻲ ﻇﻠﻪ ﻳﻮﻡ ﻻ ﻇﻞ ﺇﻻ
ﻇﻠﻪ ” ، … ﻣﻨﻬﻢ ﺭﺟﻼ ﺗﺤﺎﺑﺎ ﻓﻲ
ﺍﻟﻠﻪ ﺍﺟﺘﻤﻌﺎ ﻋﻠﻰ ﺫﻟﻚ ﻭﺍﻓﺘﺮﻗﺎ
ﻋﻠﻯﺬﻟﻚ.
ﺍﻟﺸﻴﺦ : ﻫﺬ ﻛﻼﻡ ﺻﺤﻴﺢ ﻓﻲ
ﻧﻔﺴﻪ ، ﻭﻟﻜﻦ ﻟﻴﺲ ﺟﻮﺍﺑﺎً ﻟﻠﺴﺆﺍﻝ ،
ﻫﺬﺍ ﺗﻌﺮﻳﻒ ﻟﻠﺤﺐ ﻓﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻘﺮﻳﺒﺎً
ﻭﻟﻴﺲ ﺑﺘﻌﺮﻳﻒ ﻛﺎﻣﻞ ، ﺃﻧﺎ ﺳﺆﺍﻟﻲ
ﻣﺎ ﺍﻟﺜﻤﻦ ﺍﻟﺬﻱ ﻳﻨﺒﻐﻲ ﺃﻥ ﻳﺪﻓﻌﻪ
ﺍﻟﻤﺘﺤﺎﺑﺎﻥ ﻓﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﺣﺪﻫﻤﺎ ﻟﻶﺧﺮ ،
ﻭﻻ ﺃﻋﻨﻲ ﺍﻷﺟﺮ ﺍﻷﺧﺮﻭﻱ،
ﺃﺭﻳﺪ ﺃﻥ ﺃﻗﻮﻝ ﻣﻦ ﺍﻟﺴﺆﺍﻝ ﻣﺎ ﻫﻮ
ﺍﻟﺪﻟﻴﻞ ﺍﻟﻌﻤﻠﻲ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺤﺐ ﻓﻲ ﺍﻟﻠﻪ
ﺑﻴﻦ ﺍﺛﻨﻴﻦ ﻣﺘﺤﺎﺑﻴﻦ ؟ ﻓﻘﺪ ﻳﻜﻮﻥ
ﺭﺟﻼﻥ ﻣﺘﺤﺎﺑﺎﻥ ، ﻭﻟﻜﻦ ﺗﺤﺎﺑﺒﻬﻤﺎ
ﺷﻜﻠﻲ ، ﻭﻣﺎ ﻫﻮ ﺣﻘﻴﻘﻲ ﻓﻤﺎ ﺍﻟﺪﻟﻴﻞ
ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺤﺐ ﺍﻟﺤﻘﻴﻘﻲ؟
ﺃﺣﺪ ﺍﻟﺤﻀﻮﺭ : ” ﺃﻥ ﻳﺤﺐ ﻷﺧﻴﻪ
ﻣﺎ ﻳﺤﺒﻪ ﻟﻨﻔﺴﻪ .”
ﺍﻟﺸﻴﺦ : ﻫﺬﺍ ﺻﻔﺔ ﺍﻟﺤﺐ ﺃﻭ ﺑﻌﺾ
ﺻﻔﺎﺕ ﺍﻟﺤﺐ …
ﺃﺣﺪ ﺍﻟﺤﻀﻮﺭ : ﻗﺎﻝ ﺗﻌﺎﻟﻰ )) ﻗﻞ ﺇﻥ
ﻛﻨﺘﻢ ﺗﺤﺒﻮﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﺎﺗﺒﻌﻮﻧﻲ
ﻳﺤﺒﺒﻜﻢ ﺍﻟﻠﻪ ” ] ﺁﻝ ﻋﻤﺮﺍﻥ .[31
ﺍﻟﺸﻴﺦ : ﻫﺬﺍ ﺟﻮﺍﺏ ﺻﺤﻴﺢ ﻟﺴﺆﺍﻝ
ﺁﺧﺮ ..
ﺃﺣﺪ ﺍﻟﺤﻀﻮﺭ : ﺍﻟﺠﻮﺍﺏ ﻗﺪ ﻳﻜﻮﻥ
ﻓﻲ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺍﻟﺼﺤﻴﺢ ” ﺛﻼﺙ ﻣﻦ
ﻛﻦ ﻓﻴﻪ ﻭﺟﺪ ﻓﻲ ﺣﻼﻭﺓ ﺍﻹﻳﻤﺎﻥ
” …. ﻣﻦ ﺿﻤﻨﻪ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﺗﺤﺎﺑﺎ ﻓﻲ
ﺍﻟﻠﻪ .
ﺍﻟﺸﻴﺦ : ﻫﺬﺍ ﺃﺛﺮ ﺍﻟﻤﺤﺒﺔ ﻓﻲ ﺍﻟﻠﻪ ،
ﻣﺎ ﻫﻮ ، ﺣﻼﻭﺓ ﻳﺠﺪﻫﺎ ﻓﻲ ﻗﻠﺒﻪ.
ﺃﺣﺪ ﺍﻟﺤﻀﻮﺭ : ﻗﺎﻝ ﺗﻌﺎﻟﻰ :
)) ﻭﺍﻟﻌﺼﺮ ﺇﻥ ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ ﻟﻔﻲ ﺧﺴﺮ
ﺇﻻ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﺀﺍﻣﻨﻮﺍ ﻭﻋﻤﻠﻮﺍ ﺍﻟﺼﺎﻟﺤﺎﺕ
ﻭﺗﻮﺍﺻﻮﺑﺎﻟﺤﻖ ﻭﺗﻮﺍﺻﻮﺍ ﺑﺎﻟﺼﺒﺮ .((
ﺍﻟﺸﻴﺦ : ﺃﺣﺴﻨﺖ ، ﻫﺬﺍ ﻫﻮ
ﺍﻟﺠﻮﺍﺏ ، ﻭﺷﺮﺡ ﻫﺬﺍ ﺇﺫﺍ ﻛﻨﺖُ ﺃﻧﺎ
ﺃﺣﺒﻚ ﻓﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻌﻼً ﺗﺎﺑﻌﺘﻚ
ﺑﺎﻟﻨﺼﻴﺤﺔ، ﻛﺬﻟﻚ ﺃﻧﺖ ﺗﻘﺎﺑﻠﻨﻲ
ﺑﺎﻟﻤﺜﻞ ، ﻭﻟﺬﻟﻚ ﻓﻬﺬﻩ ﺍﻟﻤﺘﺎﺑﻌﺔ ﻓﻲ
ﺍﻟﻨﺼﻴﺤﺔ ﻗﻠﻴﻠﺔ ﺟﺪﺍً ﺑﻴﻦ ﺍﻟﻤﺪﻋﻴﻦ
ﺍﻟﺤﺐ ﻓﻲ ﺍﻟﻠﻪ ، ﺍﻟﺤﺐ ﻫﺬﺍ ﻗﺪ
ﻳﻜﻮﻥ ﻓﻴﻪ ﺷﻲﺀ ﻣﻦ ﺍﻹﺧﻼﺹ ،
ﻭﻟﻜﻦ ﻣﺎ ﻫﻮ ﻛﺎﻣﻞ ،ﻭﺫﻟﻚ ﻷﻥ ﻛﻞ
ﻭﺍﺣﺪ ﻣﻨﺎ ﻳﺮﺍﻋﻲ ﺍﻵﺧﺮ ، ﺑﻴﺨﺎﻑ
ﻳﺰﻋﻞ ، ﺑﻴﺨﺎﻑ ﻳﺸﺮﺩ ….ﺇﻟﻰ
ﺁﺧﺮﻩ ، ﻭﻣﻦ ﻫﻨﺎ ﺍﻟﺤﺐ ﻓﻲ ﺍﻟﻠﻪ
ﺛﻤﻨﻪ ﺃﻥ ﻳﺨﻠﺺ ﻛﻞ ﻣﻨﺎ ﻟﻶﺧﺮ
ﻭﺫﻟﻚ ﺑﺎﻟﻤﻨﺎﺻﺤﺔ ، ﻳﺄﻣﺮﻩ
ﺑﺎﻟﻤﻌﺮﻭﻑ ﻭﻳﻨﻬﺎﻩ ﻋﻦ ﺍﻟﻤﻨﻜﺮ ﺩﺍﺋﻤﺎً
ﻭﺃﺑﺪﺍً ﻓﻬﻮ ﻟﻪ ﻓﻲ ﻧﺼﺤﻪ ﺃﺗﺒﻊ ﻟﻪ
ﻣﻦ ﻇﻠﻪ ، ﻭﻟﺬﻟﻚ ﺻﺢ ﺃﻧﻪ ﻛﺎﻥ ﻣﻦ
ﺩﺃﺏ ﺍﻟﺼﺤﺎﺑﺔ ﺣﻴﻨﻤﺎ ﻳﺘﻔﺮﻗﻮﻥ ﺃﻥ
ﻳﻘﺮﺃ ﺃﺣﺪﻫﻤﺎ ﻋﻠﻰ ﺍﻵﺧﺮ )) ﻭﺍﻟﻌﺼﺮ
ﺇﻥ ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ ﻟﻔﻲ ﺧﺴﺮ ﺇﻻ ﺍﻟﺬﻳﻦ
ﺀﺍﻣﻨﻮﺍ ﻭﻋﻤﻠﻮﺍ ﺍﻟﺼﺎﻟﺤﺎﺕ ﻭﺗﻮﺍﺻﻮ
ﺑﺎﻟﺤﻖ ﻭﺗﻮﺍﺻﻮﺍ ﺑﺎﻟﺼﺒﺮ .((
ﺍﻟﻤﺼﺪﺭ: ﺍﻟﺤﺎﻭﻱ ﻣﻦ ﻓﺘﺎﻭﻯ
ﺍﻷﻟﺒﺎﻧﻲ . ﺹ ) 166-165 (
Allah Memisahkan Yang Baik Dengan Yang Buruk

Ditulis oleh: Al Ustadz Idral Harits Hafizhahulloh

Bismillah.

Allah Ta’ala berfirman Ali ‘Imran 179 :

مَا كَانَ اللَّهُ لِيَذَرَ الْمُؤْمِنِينَ عَلَىٰ مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ حَتَّىٰ يَمِيزَ الْخَبِيثَ مِنَ الطَّيِّبِ ۗ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُطْلِعَكُمْ عَلَى الْغَيْبِ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَجْتَبِي مِنْ رُسُلِهِ مَنْ يَشَاءُ ۖ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ۚ وَإِنْ تُؤْمِنُوا وَتَتَّقُوا فَلَكُمْ أَجْرٌ عَظِيمٌ
“
Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mukmin). Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang ghaib, akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara rasul-rasul-Nya. Karena itu berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya; dan jika kamu beriman dan bertakwa, maka bagimu pahala yang besar.”

Syaikh As-Sa’di menerangkan :

Tidaklah ada dalam hikmah Allah, membiarkan kaum mukminin sebagaimana kamu saat ini, yaitu bercampur aduk, tanpa ada perbedaan sama sekali, hingga Allah memisahkan yang baik dari yang buruk, memisahkan mukmin dari munafik, dan yang jujur dari yang dusta.

Karena itu, sesuai dengan hikmah Allah yang nyata, Dia memberi ujian kepada hamba-Nya, dengan berbagai hal yang akan memisahkan yang buruk dari yang baik. Maka Allah utus para Rasul-Nya dan memerintahkan mereka taat dan tunduk serta beriman kepada para Rasul itu. Akhirnya, manusia terbagi menjadi dua golongan, sesuai dengan sikap ittiba’ mereka kepada para Rasul tersebut, yaitu; mereka yang taat dan mereka yang durhaka.

Dan ada di manakah kita? Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyatakan bahwa yang taat kepada beliau akan masuk surga, sedangkan yang enggan masuk surga adalah mereka yang durhaka kepada beliau.

Rasulullah sudah mengingatkan pula agar kita berpegang dengan sunnah beliau dan sunnah khulafaurrasyidin yang terbimbing.

Kemudian, marilah kita camkan firman Allah Ta’ala dalam surat An-Nisa 115 :

ومن يشاقق الرسول من بعد ما تبين لهم الهدى ويتبع غير سبيل المؤمنين نوله ما تولى و نصله جهنم وساءت مصيرا…

“ Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali…”

Orang mukmin yang pertama kali dituju dalam ayat ini adalah para sahabat, adapun jalan mereka di sini meliputi akidah dan amalan mereka. Dan jalan mereka itu sudah jelas, seterang cahaya siang, orang-orang yang menelusurinya juga sudah jelas, bahkan kita tidak dibiarkan meraba-raba jalan tersebut. Karena para pewaris mereka ada di hadapan kita, yaitu para ulama rabbani.

Karena itu alangkah pantas kita ingat kata-kata Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu :

اتبعوا ولا تبتدعوا، قد كفيتم…

“Ikutilah oleh kamu, dan janganlah kamu mengada-adakan bid’ah, sungguh kamu sudah dicukupi…”

Apakah kita belum merasa cukup dengan apa yg membuat para sahabat cukup? Semoga Allah merahmati Imam Malik yang mengatakan :

لن يصلح آخر هذه الأمة إلا بما صلح به أولها…

“Tidaklah akan baik generasi akhir umat ini kecuali dengan apa yang telah membuat baik generasi awalnya…”

Dengan satu ayat mereka disadarkan, saat mereka dilanda duka kehilangan orang yang sangat dicintai, yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan satu hadits, selesailah keributan di antara mereka dalam menentukan siapa yang akan menggantikan Rasulullah mengurusi kaum muslimin.

Subhanallahi. Kita salafiyyun, di hadapan kita ada ulama rabbani, waliduna al ‘allamah Rabi’ bin Hadi hafizhahullah, beliau selalu mengikuti perkembangan dakwah salafiyah di tanah air sejak hampir seperempat abad. Bahkan beliau sangat memahami hampir semua persoalan yang ada dalam perjalanan dakwah ini, baik yang terkait dengan dakwahnya maupun sebagian pengusungnya. Itulah karunia Allah buat salifiyin.

Beliau telah dan sejak dahulu menyampaikan nasehatnya buat kita salafiyin, terakhir dengan tahdzir tersebut.
Kalaupun diingkari, dan dibantah, sesungguhnya itu adalah nasehat berharga, tidak ingatkah kita dengan kasus Ka’b bin Malik dan dua sahabat utama lainnya? Jelas mereka radhiyallahu ‘anhum bukan munafik, tetapi diboikot selama 50 hari 50 malam, sampai bumi terasa sempit padahal begitu luasnya, bahkan jiwa mereka sesak, dalam keadaan tidak ada selama ini tanda nifak pada diri mereka. Sementara di hadapan kita, tersebar kenyataan adanya penyimpangan dan pemalsuan bahkan kedustaan sehingga sangat layak untuk dibeberkan?

Manakah yang lebih layak diboikot, dihajr atau dijauhi? Oleh sebab itu, salafiyin hendaklah jujur dalam menilainya, hendaklah kita bertaubat kepada Allah, dengan jujur, karena jujur adalah pilihan orang yang mulia dan merdeka.

Bisa jadi kekeruhan yang kita lihat ini karena dosa yang kita lakukan, maka bersegeralah bertaubat kepada Allah. Lebih-lebih mereka yang ditahdzir.

Keikhlasan adalah kunci semua itu. Siapa yang niatnya ikhlas dalam al-haq, meskipun terhadap dirinya, niscaya Allah cukupi antara dia dan manusia. Siapa yang berhias dengan apa yang tidak ada padanya, Allah tentu membuatnya buruk.

Seorang hamba, jika dia ikhlas karena Allah Ta’ala, tujuan dan cita-citanya adalah mengharapkan wajah Allah semata, niscaya Allah pasti bersamanya. Karena itu, jika seseorang melaksanakan yang haq terhadap orang lain dan dirinya lebih dahulu, dan semua itu dengan pertolongan Allah dan karena Allah, tidak ada yang dapat mengalahkannya, meskipun langit dan bumi bersatu melakukan makar terhadapnya.

Sebaliknya, jika seseorang berada dalam kebatilan, dia tidak akan ditolong, dan seandainya ditolongpun kesudahannya yang baik tidak akan diraihnya. Bahkan dia akan terhina dan tercela.

Semoga nukilan ini bermanfaat.